Showing posts with label womanhood. Show all posts
Showing posts with label womanhood. Show all posts

Sunday, November 16, 2008

Everyday day Grace, Every day Decision

10 tahun belakangan ini, gw bergumul dengan sesuatu yang sebetulnya pasti tidak disangka-sangka oleh banyak orang. Secara tulisan gw, aktivitas gw, lingkungan gw selalu ada dalam kondisi/keadaan yang bertolak belakang dengan kondisi hati gw.


10 tahun ini gw bergumul mempertanyakan kenapa gw harus mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat gw. Kadang gw merasa semuanya menjadi tidak ada artinya. Bahkan di saat tergelap dalam kehidupan gw pun gw ngga merasa Dia ada. Kalau… gw saat ini mempercayai Yesus, gw berpikir.. apa ini bukan karena gw di’keroyok’ sama marketingnya Yesus.
Nyokap gw, lingkungan pergaulan gw, dan bahkan sekarang laki-laki yang gw nikahi pun adalah marketer nya Yesus yang luar biasa. Kadang gw butuh Yesus dalam rupa manusia. Bukan hanya Yesus yang ada dalam Kitab Suci dan homili, serta khotbah-khotbah.
Gw berpikir… apa selama ini gw ngga dibohongi dengan semua teori tentang Yesus yang ada? Kl katanya hari-hari gw Dia sertai… apakah benar Yesus? apa bukan sosok yang lain yang mungkin di sembah oleh agama-agama/kepercayaan yang ada di bumi ini? Kalau semua ajaran mengajarkan segala yang baik.. apa ngga mungkin kl semua penyertaan, kesembuhan, berkat, apapun itu datang dari salah satu dari mereka? Apa jaminannya kl itu adalah Yesus?

Semua pertanyaan ini gw tahu tidak datang tiba-tiba. Tapi dari luka yang ada dalam hati gw. Luka yang bersarang bertahun-tahun dan tidak terpulihkan. Bukan karena tidak mampu dipulihkan, tetapi karena gw memang tidak minta untuk dipulihkan. Karena Sang Penyembuh adalah seseorang yang menjadi sumber luka gw.
Kemarin gw menghadapi kasus anak dari sahabat gw, yang ‘terjebak’ masuk dalam satu aliran antikris. Anak ini bukan dari keluarga broken home. Ayah ibunya adalah orang tua yang menurut gw sangat memperhatikan anak-anaknya, berusaha memberikan yang terbaik, dan lebih dari segalanya berusaha menjadi orang tua yang baik dan benar di hadapan Allah. Tetapi karena kondisi badan si anak yang terlalu lelah akibat mata pelajaran sekolah, dan rumah yang jauh… anak ini tergoda untuk ikut dalam aliran ini dan hanya dengan 1x pertemuan ia sulit keluar karena intimidasi iblis bagi dia dan keluarganya.
Dan pertama kali nya dalam hidup gw kmrn, gw merasa gw berhadapan langsung dengan intimidasi itu. I know it for sure… gw bukan orang yang suka mengakui kalau gw agak2 ’supranatural’… buat gw itu agak-agak menurunkan pride gw hehehe… tapi ngga tahu kenapa… untuk pertama kalinya dalam kehidupan gw kmrn... somehow... gw percaya itu benar-benar ada dan gw sedang berhadapan dengan kuasa jahat itu! Dan pertama kalinya, setelah bertahun-tahun gw ngga mengakui ini... I am very glad... I have Jesus in my life!


Sulit mengakui hal ini. Tapi gw tahu, banyak di luar sana yang mungkin mempergumulkan hal ini. Doa yang tidak (atau belum) terjawab, pertolongan yang rasanya tidak pernah datang, putus asa yang mencekam, rasa ingin meninggalkan dunia ini karena tidak ada lagi yang patut diperjuangkan, luka yang rasanya setiap hari harus diperjuangkan untuk bisa dilewati rasa perihnya, rasa ketidak-adilan dan ditinggalkan yang rasanya membuat kita harus berjuang sendiri. Saat di mana kita merasa… bahkan salib dan kematian Yesus di atas kayu salib menjadi tidak bermakna, dan semuanya seperti dongeng yang ngga tahu harus kita percayai atau tidak. Dan parahnya… kita ngga tahu… kapan ini semua berakhir dan jalan seperti tidak berujung.
Gw ngerti banget rasa semua ini. I’ve through all those feelings. Bahkan sampai tahap… gw ngga pernah bisa minta apapun lagi, krn rasa tidak percaya lebih mendominasi daripada iman, harapan, terlebih lagi kasih.

Tapi satu hal yang gw mengerti… melewati semua perjalanan kehidupan ini… ada satu rahmat yang selalu menyertai bila saja kita mengarahkan kehendak bebas kita kepada Yesus.
Buat gw hari ini… I decide to follow Jesus every day. No matter what. Karena perasaan bisa datang dan pergi, naik dan turun, dan adalah keputusan keseharian kita untuk mengikuti Yesus.

Buat gw hari ini… Gw tahu gw mempercayai bahwa tidak ada kuasa apapun yang mampu merebut gw dari kasih Yesus (Roma 8:38-39), bahkan kemarin… saat gw bertemu dengan anak sahabat gw yang gw ceritakan di atas, dan merasa diintimidasi sehingga gw ketakutan setengah mati, tapi gw tahu juga saat itu… my soul will be save and sound. Rasanya seneng banget gw waktu bisa bilang ke anak itu (yg waktu itu gw tahu bukan dia yang ngomong, kata2 seperti itu tidak bisa keluar dari seorang anak SMP yang masih belum tahu apa2): “Kamu ngga usah takut Tante kenapa-kenapa, Tante punya Tuhan Yesus yang pasti jauh lebih kuat dan berkuasa dibanding kuasa apapun yang ada! I will be OK!!!” Gosssh… rasanya gw menang banget! biarpun gw tahu, gw ngga boleh takabur. (fyi, kl ini gw mau dipanggil Tante, secara dia anak temen gw hehehehe… nasib ya nasib!)



Buat gw hari ini, apapun yang gw jalani, sekering apapun, setidak percaya apapun, sesakit apapun, sebanyak apapun pertanyaan gw, sesulit apapun gw melewati pergumulan gw… ada satu rahmat yang besar buat gw, bisa bangun di pagi hari… di samping orang yang gw cintai… dan berkata… “Today I decide to follow You Jesus. My life is Yours and please help me get through this day. Let me still in Your Hands at the end of this day. I’ll work hard for my salvation, but the Grace is from You.!”
Gw ngga tahu… apa ini cukup untuk membawa gw ke surga. Tapi Tuhan tahu bagaimana gw mengerjakan keselamatan gw hari demi hari dengan takut dan gentar!
Gw ngga mau menyamakan hidup gw dengan Mother Teresa (gw masih 1/1000 nya bahkan lebih kecil jauh dari beliau!)… tapi gw percaya… berpuluh-puluh tahun ia melewati masa kegelapan dengan setia… biarpun dia mempertanyakan juga banyak hal dalam kehidupan dia (baca: come be my light), tapi kesetiaan dan cintanya kepada Yesus memenangkan hidupnya, bahkan memasukan dia dalam jajaran orang kudus gereja.

So… I have hope! You have hope! We all have hope in Jesus. No matter what your condition right now. Believe it or not, we are all in His hands.
This is one of my womanhood journey. My part of living the heaven. I work my salvation hard. But i know… everything will be ok.
I am living my every day grace from Him, and only because of His Grace, I decide Jesus everyday.

Tuesday, October 28, 2008

The Role Model of my Womanhood Journey

Bunda Maria selalu menempati tempat yang khusus di hati saya.

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu… waktu saya sedang jatuh cinta, dia menjadi ibu yang mendengarkan lagu cinta saya.

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu… waktu saya sedang begitu marah kepada kakak sulung saya, Yesus… dia menjadi ibu tempat saya mengadu.

Dan sampai hari ini, ia tetap menjadi seorang ibu yang menyapa keseharian saya dengan nuansa yang berbeda. Yang memperlengkapi saya dengan teladan kewanitaannya.

Sejak awal, ia menjadi wanita yang sepenuhnya membiarkan dirinya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Kata wanita (=Female), diambil dari bahasa latin Femina yang berasal dari akar kata Fellare yang artinya ‘menyedot’ (=to suck), dan ini mengarahkan kepada kegiatan menyusui yang hanya dapat dilakukan oleh wanita. (http://en.wikipedia.org/wiki/Woman)

Satu keadaan lagi yang hanya dipunyai wanita adalah melahirkan melalui rahimnya.

Saat seorang anak menyusu pada ibunya, yang ia lakukan adalah menyedot payudara ibunya. Dan saat itu air susu yang diproduksi oleh kelenjar yang ada dalam payudara ibunya tertarik keluar. Bukan hanya air susu, tetapi juga sel-sel yang ada dalam organ payudara tersebut mungkin tersedot keluar bersama dengan sang anak. Sehingga Ibu juga memberikan tubuhnya untuk member kehidupan kepada anak yang dilahirkannya.

Saat seorang anak ada dalam kandungan ibunya, selama 9 bulan ia ‘menyedot’ semua sari yang ada dalam tubuh ibunya. Banyak sekali para wanita sangat rentan terhadap kasus kekurangan darah, kekurangan kalsium, dan banyak vitamin… karena semua di supply untuk keperluan sebuh kehidupan yang akan hadir menikmati cinta Tuhan di dunia ini.

Kalau saja kita menyadari, betapa indahnya Allah menciptakan tubuh kita, dengan segala kesiapan dan kesempurnaan untuk beranak cucu dan bertambah banyak serta memenuhi isi bumi (bdk: Kejadian 1:28), serta kemudian menjalankan fungsi kewanitaan kita untuk memberikan segalanya, rasanya dunia akan menjadi a better place.

Bagi saya, tiada yang lebih indah untuk merayakan kewanitaan saya, selain merayakannya dengan memandang keberadaan Bunda Maria dalam kehidupan saya.

Seluruh hidupnya, ia merayakan kewanitaannya dengan terus memberi.

Memberi kesempatan bagi sang mesias hadir dalam rahimnya karena menyadari ia sendiri adalah the hand made of God… sehingga ia membiarkan kehendak Tuhan terjadi pada dirinya.

Menyusui dan merawat bayi Yesus dengan seluruh keberadaannya sebagai ibu.

Mencari kanak-kanak Yesus dengan sangat khawatir saat Dia menghilang di bait Allah dan menerima pertanyaan: “”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (bdk: Lukas 2:49), dan ia menjadi seorang ibu yang menyimpan semua perkara dalam hatinya.

Mendampingi Putranya at the first performance of miracle di pernikahan di Kana.

Dan terlebih dari segalanya… Ia ibu yang tidak sedetikpun meninggalkan Putranya di jalan salib menuju Golgota. Menatap setiap cambuk yang juga mencambuk hatinya, menuggui Putranya di bawah kaki salibya dan memelukNya saat jenazahNya diturunkan dari atas kayu salib.

Ia ibu yang juga menemani para rasul saat Pentakosta. Menemani para rasul menantikan janji Yesus yang akan mengutus roh Kudus dan tidak akan pernah meninggalkan umatNya sendirian.

Ia ibu yang selalu ada sejak hari pertama Yesus masuk dalam rahimnya dan tetap ada saat Yesus sudah naik ke surga.

Ia ibu yang selalu dapat menjadi tempat saya memandang, saat saya sedang menjalani masa sulit kewanitaan saya.

Saat saya menulis artikel ini, saya sedang ada di Biara Ursulin Wisma Samadi. Sayup-sayup terdengar lagu Bunda di telinga saya dinyanyikan oleh anak-anak SD yang sedang retreat….

(yang beberapa diantara mereka sedang seliweran sekarang nanya WC ada di mana dan manggil2 gw TANTE…! Gggggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…! NGGA TERIMA!!!!!!!)

Tapi lagu itu menyentuh hati saya, dan saya merasa Bunda Maria sedang duduk di meja makan ini bersama saya, menemani saya menulis…

Bunda Maria mengajarkan banyak hal kepada saya. Menghargai setiap fungsi dari tubuh kewanitaan saya, dan terlebih dari segalanya…

She teaches me how to celebrate my womanhood, cherish every second of it… and grateful with all I have in life.

She always be my role model of my womanhood journey.

Love you Mother Mary…

“Oh Bunda ada dan tiada, diri mu kan selalu ada di dalam hatiku!”

-hari terakhir di Bulan Maria, 31Oktober 2008- dedicated to all moms I have… Mother Mary, my beloved mom and mom in law. 3 extra ordinary women, women of my life…. Thank you for sharing your womanhood and pass on the legacy. Love you all very-very much.

Saturday, August 30, 2008

Talking of Which.. Something about HOPE! (first time writing in English… hope or humiliating my self?)

Just find out one of my passions, after my hubby talked a lot about it. He always said that he wants to inspire the world with love. Shout it loud… and make things happen!

Something always tickling my heart when i heard, read, and think about it… Maybe because I meet so many ‘dark’ side, the sadness, and downhearted on my patients… I WANT TO SHOUT HOPE TO THE WORLD!

Hope was personified in Greek mythology as Elpis. When Pandora opened Pandora’s Box, she let out all the evils except one: hope. Apparently, the Greeks considered hope to be as dangerous as all the world’s evils. But without hope to accompany all their troubles, humanity was filled with despair. It was a great relief when Pandora revisited her box and let out hope as well. It may be worthy to note that in the story, hope is represented as weakly leaving the box but is in effect far more potent than any of the major evils.

Its not easy to switch yourself on ‘Hope’ mode. Especially when everything around you seems so dark and unseen. You even can not see yourself. Many times I feel that I can’t stand it anymore. I can’t do it anymore… Many times I temped to yell the word ITS ENOUGH! I won’t do it anymore, I can’t do it anymore. There’s no way I can get through this… There is no hope for this!

Friends… my companion of the journey of life… The good news is: There is hope in the Lord. But sometimes the image of God seems so blur to us. Sometimes (even every time!) we need God with flesh and ‘form’. In my case, He always did. He sent me angels with flesh and ‘form’… through people around me, the books I read, the songs I heard, every email I received, even my dog sent me the message of hope. Hope is everywhere… cause Hope is a believe in a positive outcome related to events and circumstances in one’s life.

The problem is: we can’t see it. And even though we seen it… maybe we decide NOT to see it! And then sunk again in the comfort ‘pity’ of yourself. Get up every one.. smell the flavour of hope around you… and in every beat of your heart. One of my dreams is to make at least one book publish international, the book that can bring the message of hope to humanity. But with my ’sucks’ English… I can’t see there is hope to make that dream come true. But today… this is my first writing in English. I decide to be embarrassed and taking a step! Because I know… there is hope on myself! Yeaaahhhh…

And maybe your problems now is not about making a book. But the point is the same. What makes you feel desperate right now? What makes you think that you’re not good enough, you can’t do something, you can’t be healed, you’re not worthy on something (or somebody)? And those make you drown deeper and deeper, you can’t even say a word.

Friends, we’re created with an image of God. And that image is perfectness. The devil keep saying to us that negative and pathatic words to us. And that make us think that we can’t do this and that! But that doesn’t change the reality that we are still perfect in Gods eyes. And with the perfectness, we CAN do so many things in life. We CAN be healed, We CAN do our works, We CAN achieve our dreams, We CAN get up from our sins and walk in God’s grace. Not by might, not by power, but by the spirit says the Lord!

As the Greeks considered hope to be as dangerous as all the world’s evils, the evils will do anything to make the hope disappear in our life. Don’t let the evil take away the hope from you!

Ask the strength and grace from our Lord Jesus Christ, Stand for yourself, decide to make your life meaningful, be responsible of your life and spread the hope that you have within to bless other people. Our life is too short to abandoned with despair. Life is too beautiful to be ignored. You CAN get through all with Jesus…YES YOU CAN! THERE ALWAYS BE HOPE IN YOU! The hope and the strength you can't imagine yourselves.

yeaaahhhh… I will end this ‘english’ article now! (*fffyyuuiiiihhhh… *) now I am proud of my self… hahaha…! I finish my first article in English. For you who knew me, you all know how bad my english is! And yes… I am taking a step… don’t care about the grammer, don’t care about anything… (humiliating myself) just spit it out and all the Glory to Him that makes me brave and give me a gut to do this… hehehe… Haleluya!

Sunday, August 24, 2008

Sing Me Your Song Again Daddy

Sejak masa kecil, seorang anak perempuan kadang memimpikan hari pernikahannya. Gw selalu memimpikan pernikahan gw dihadiri dan direstui oleh kedua orang tua gw… Dan Puji Tuhan 3 Juni 2004, I was walking down the isle with the first man in my life.

Malam (atau ini sudah pagi sih hehehe…) ini gw nulis blog ini sambil nonton Oprah di Hallmark. Malam ini sedang nge bahas soal anak-anak hasil donor sperma. Anak-anak yang tidak tahu siapa ayahnya, dan selama ini hanya diberi tahu banyak cerita yang berlainan. Bahkan salah satu dari mereka hanya diberi tahu, nama ayah mereka adalah No.46 (nomor donor yang dipilih ibu mereka saat itu)

Buat gw, sama sekali ngga terbayang tumbuh tanpa sosok seorang ayah. Gw punya hubungan yang cukup istimewa dengan bokap gw. Gw dekat dengan nyokap dan bokap dengan cara yang sangat istimewa. Berlainan satu dengan lainnya. Karena posisi nyokap tidak pernah bisa digantikan dengan bokap gw, demikian juga sebaliknya.

Bokap gw hanya manusia biasa. Dia bukan seorang bokap dan suami yang sempurna. Tetapi apapun yang terjadi He always be my dad. Karena dia dan nyokap gw ada di dunia ini dan diijinkan mengecap kehidupan.

Betapa beruntungnya kita mempunyai Bapa di surga. Kalau bokap gw aja yang seorang manusia biasa yang tidak sempurna bisa memberi makna dalam kehidupan gw, apalagi Bapa kita di surga yang menciptakan kita satu persatu. He has the perfectness of love yang kadang tidak kita sadari krn gambar Bapa yang retak dalam hati kita.

Bapa yang mau merelakan apa saja untuk kita anak-anakNya di dunia, bahkan putraNya yang terkasih pun Ia biarkan didera untuk memenangkan jiwa dan keselamatan kita satu persatu. Think how lucky we are… Feel how loved we are. Dan untuk kasus gw, mungkin itu sebabnya gw selalu berasa I am a princess…! Karena gw selalu merasa kedua ayah gw… Bapa gw di surga dan Papa gw di dunia ini selalu menyanyikan lagu cinta buat gw.

Yes.. I am loved by my Daddy… And forever His song of love will linger in my heart! Thank You for the life You gave me and for Your presence in my life… The one I’ll most remember are your songs of love.

Sing me a song again, Daddy
Sing me a happy verse.
Teach me those clever lines you sang
As you carried me on your shoulders.
Sing me that hymn that you so loudly
Sang in church with mom.
Sing it again to me and fill me
With all your words of wisdom.

Comforting words of love when I
Would get home from school in tears.
Somehow your songs have stayed within me
Down through all the years.
Once when my younger heart was broken
Your shoulder was there to cry on.
Sing me those songs I know will linger
Long after you have gone.

I am standing at the threshold
Of a chapter in my life
I am asking for your blessing
As I’m about to be the wife
Of a man I know who loves me
And I’m proud to be his bride.
Dad the time has come for me to leave your side.

So, sing me a song again, Daddy.
Sing me a lullaby.
Wrap me inside your arms, Daddy,
‘Though this is not goodbye.
Your songs will live forever
In my heart. When times get rough
The ones I’ll most remember
Are your songs of love.

Tuesday, August 19, 2008

Domus Cordis Retreat Orientasi Class 2008

Komunitas kami Domus Cordis mengadakan retreat wajib tahunan yang akan selalu diadakan di liburan Kemerdekaan RI. Jadi tahun ini diadakan tgl.16 dan 17 Agustus 2008, dapat tempat di rumahnya Tante Joice, di daerah Lippo Carita... (yang ternyata juaaauhhhhh... tapi namanya berkat, musti disyukuri! hehehe...)

Kami akhirnya pergi ber-16, krn biarpun acara sudah diumumkan jauh-jauh hari, ada aja yang ngga bisa ikut karena urusan ini itu ehehe...
Moshi (Rm.Deshi Ramadhani SJ), Riko, gw dan Ms. Mindy (secara di rumah gw kosong, ternyata princess doggy satu ini diajak hehehe...) berangkat hari Jumat jam 3pm. Maunya sih sampe di sana duluan. Tapi secara kita berjalan seperti kura(h)dan berhenti2 krn hambatan Europian Resto di karawaci, serta nyasar(h) ke Serang dan bablas sampe ke Labuan, kita sampe di tempat baru jam 9 malam (HALELUYA! hehehe..)

Sampe di sana, sambil nunggu Vera, Chen(H), dan Yuli... gw masak makan malam. Ceritanya sih mau buat Bim Bim Bab kayak yang Tante Mei buat waktu itu. Tapi kok setelah di makan, rasanya kayak Beef Yakiniku... aneh... hehehe
3 wanita itu berdatangan... mulailah rame di vila. Gw teler banget malam itu... mana Mindy ngikutin terus... tidurlah gw duluan. Mana Mindy ngga tahu kenapa jadi manja banget... ngikutin gw ke mana(H)... lumayan juga... Ngga kebayang gw dikuntitin begini terus... sama anjing yang bisa gw bentak aja gw terganggu... jangan(H) ntar ama anak gw juga begitu... matilah... :p

Sabtu pagi semua berdatangan. Mike dan Ocep, Pasutri Balle, The Wikanta's dan Rhea, Bro Dewo and Sist Angel... dah lengkap deh!
Kita mulai acara dari Sabtu sore sd. Minggu siang... Puji Tuhan semua lancar (sesion akan gw ceritain sendiri ya!), ada As dan Riyo juga yang bantuin masak jadi gw ngga pusing ama konsumsi kita semua.
Abis acara kita misa dan menyanyikan 17 Agustus dengan semangat! Setelah itu kita lomba... lucu banget ngeliatin Dewo yang berusaha menggendong Mbak Avi, Mike yang gendong Chen(H) belum lagi main ngesot(H)an dan gundu...
Biarpun usia bertambah... rasanya sulit ya jadi dewasa...!






Setelah itu kita rame-rame mau sunset-an di pantai carita. Di sana kita abis2an foto(H), dan emang menyenangkan pergi rame(H) ke laut gini... lucu aja... hehehe..
Ini beberapa pose(H) ngga tahu malu kita hehehe...








Dulu gw punya luka yang besar sama yang namanya komunitas dan sulit kembali mempercayai apa artinya persahabatan. Tapi gw bersyukur atas semua yang boleh Dia 'kembalikan' dalam kehidupan gw. Mungkin buat orang lain itu ngga terlalu berarti, tetapi buat gw pribadi... as I always said: Friends are like stars... mereka selalu memberi makna dalam setiap keadaan. Dan mereka menyembuhkan gw perlahan.
Kehidupan persahabatan naik dan turun. Kadang gw sebellll banget ama mereka! Malas ketemu mereka... tetapi melebihi semua itu.. they are my second family in this world! and thank God for that...

Thursday, July 24, 2008

Motherhood... Brain damage..? (a reflection)


Beberapa minggu yang lalu, gw kumpul2 sama teman2 SMP yang udah 20 tahun ngga ketemu (gooossshhh... sound so olddd... 20 years... 20 tahun yang lalu ud bisa pacaran... hehehe...), lucu juga sih... ketemu-ketemu lagi semuanya ud berwajah lebih hhhhmmm... 'bijaksana' di bandingkan 20 tahun yang lalu... ya iya laaahhh... (masa ya iya dong.. hihihihi... *garing*)

Beberapa di antara kami sudah punya anak2 yang sebentar lagi ABG. Dari percakapan di antara kami, ada satu kalimat yang dilontarkan salah satu teman gw soal kehidupannya sekarang... 20tahun sejak lulus SMP, dan mungkin 10 tahun motherhood. Kata dia, "Sekarang gw ud susah mikir, mertua gw kadang suka godain.. 2+8 berapa? (sambil dia ekspresiin ngitung pake jarinya), gw ud bingung jawabnya..." hehehehe... Saat itu gw ketawa kenceng...
Tapi dalam hati gw mikir... Aduuuhh.. sampai segitunyakah kehidupan istri-istri yang hanya di rumah urus suami dan anak?
Sampai segitukah kehidupan motherhood yang 'jauh' dari kegiatan-kegiatan yang bersifat sosialisasi produktif dan ngga cuma gosip dan ngomongin hari2 doang?

Banyak diantara teman-teman gw, ibu-ibu muda yang sangat produktif. Temen gw Anast misalnya, dia bekerja dari pagi sampai sore, tapi masih bisa atur waktu buat suami, anak, ortu, mertua, dan kadang pelayanan. Dan ngobrol sama dia ngga melulu soal anak dan suaminya (biarpun memang dominasi pasti soal itu... ya pastilah... org itu hidupnya dia...)
Tapi ada teman gw satu lagi yang stay di rumah tetapi akhirnya menjadi seseorang yang jauuuuhhhh... sekali dari teman yang gw kenal semasa dia belum menikah. Dari hamil dia sudah sering bilang, "Sejak hamil otak gw jadi bego... kayaknya semua diserap anak gw..."
Hhhhhmmm... sejak itu memang dia stay at home mom, tetapi dipenuhi dengan kekhawatiran akan anak-anaknya, sangat labil, dan mungkiiiinnnn... dia mempercayai apa yang dikatakannya... dan jadi 'bego' beneran... :-)

Semuanya itu membuat gw berpikir... hidup kita selalu berubah. Sebagai wanita, kadang perubahan itu demikian drastisnya... sehinggga yang terjadi bukan hanya perubahan keadaan, tetapi juga perubahan fisik dan mental. Yang kadang terjadi di luar yang kita bayangkan.
Tetapi itu hebatnya seorang wanita... Mereka mampu bertahan melalui itu semua. Dan dari waktu ke waktu begitu semua wanita yang 'pass on' the legacy ke anak-anak mereka atau ke generasi yang ada di bawah mereka. Dan apa yang mereka percayai, itulah yang mereka turunkan sebagai legacy ke anak-anak mereka.

So... mothers... women... friends of life... my sisters...
Lets make a history of our life. Lets make a great legacy to our next generation.
Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang berkata: "Terjadilah sesuai imanmu...!"
Apa yang kita imani akan diri kita saat ini?
Bagaimana kita memandang diri kita saat ini?
Percayalah... its not only about yourself, because we live to share.
Dan apa yang kita bagi, adalah apa yang kita percayai.
Its really a one find day when God created us. Not only fine, but great and perfect day...! So.. we are perfect friends.. :-)
Dan gw percaya, ke 'perfect'an itu akan menjadi tambah sempurna saat kita membagikannya kepada sekeliling kita.
Don't ruin your perfectness by believing something thats not real.
Karena semua kesempurnaan tinggal tetap sampai hari kita menghadap kembali ke pencipta kita. Dan motherhood tidak merampas itu semua... bahkan menambahkan semuanya itu...

Motherhood memberikan kesempurnaan atas jati diri wanita
Motherhood memberikan kesempatan untuk berbagi kesempurnaan
Motherhood memberikan privilage untuk justru mempercayai bahwa makin hari kita makin sempurna karena diberi kesempatan untuk meneruskan legacy kita di dunia ini.

So.. Mothers... celebrate your days...
Celebrate your calling
Celebrate your body, mind, and spirit
Celebrate love and life!

PS. I am not a mother yet... but the spirit of motherhood stays in me. And I am happy with this spirit whos nurture me with so many great things that will happend to me. Amen.

Di bawah ini ada satu artikel yang menarik. Please enjoy your reading:


Kapasitas Otak Kita Hanya Dipakai 1 Persen

Drektur Brainic Institute yang juga pengarang buku Be an Absolute Genius, Sutanto Windura mengatakan, potensi dan kemampuan otak manusia pada dasarnya sama. Bahkan, semua anak adalah genius absolut.

"Tidak ada anak yang bodoh, hanya sebagian besar otak kita tidak terlatih. Bayangkan, pada umumnya potensi dan kapasitas otak manusia hanya dipakai kurang dari 1 persen, sisanya tidak pernah dipakai dan dilatih dengan baik," kata Sutanto dalam diskusi dan bedah buku terbatas Be an Absolute Genius di Toko Buku Gramedia, Jln. Merdeka Bandung, Sabtu (24/5).

Menurut Sutanto, jika saja manusia menggunakan 8 persen kapasitas dan potensi otaknya, dia akan menjadi profesor dan ahli dalam berbagai bidang. Dia pun akan mampu menguasai sedikitnya 18 bahasa asing.

Sutanto yang kerap disebut sebagai pelatih otak ini menuturkan, kecerdasan seseorang sebenarnya tidak ditentukan oleh IQ yang tinggi. Salah besar jika hanya anak ber-IQ tinggi yang dikatakan genius.

"Apakah dengan IQ tinggi dia bisa berhasil dalam hidupnya? Berhasil dalam hal akademik mungkin sebab IQ hanya ditentukan oleh dua elemen kecerdasan di dalam otak, yakni bahasa dan logika. Sementara secara keseluruhan, otak memiliki 8 elemen kecerdasan, termasuk kecerdasan bergaul, bergerak, dan lain-lain," tuturnya.

Menurut Sutanto, semua orang bisa menjadi genius asalkan otaknya dikelola dengan baik. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri harus dijaga agar keduanya bisa bekerja secara seimbang. Otak pun harus dibiarkan bekerja secara alami sesuai dengan fungsi otak sebagaimana mestinya.

"Sistem pembelajaran di sekolah yang konvensional mayoritas hanya mengoptimalkan kerja otak kiri dengan menjejali materi pembelajaran tanpa diberi tahu bagaimana cara belajar," ungkapnya.

Padahal, kata Sutanto dengan menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri maka hasil pembelajaran yang diperoleh akan maksimal. Keseimbangan antara kemampuan otak kiri dalam mengenal tulisan, bahasa, angka, menganalisis, logika, dan hitungan, dengan kemampuan kerja otak kanan yang mengatur konseptual, seni/musik, gambar, warna, emosi, imajinasi, dimensi, sampai melamun akan menghasilkan manusia genius.

"Tidak perlu terus memberikan materi pelajaran yang berjubel dan hanya menyuruh siswa untuk mencatat. Sesekali biarkan daya imajinasi anak berkembang. Lakukan berbagai cara pengajaran dan diselingi dengan praktik," katanya.

Kendati demikian, Sutanto mengaku cukup sulit mengubah cara belajar konvensional di sekolah. Solusinya adalah orang tua harus tahu dan paham bagaimana mengoptimalkan kemampuan anak dalam belajar di rumah. Bagaimana agar anak menyukai belajar seperti halnya mereka menyukai Play Station dan nonton kartun.

"Libatkan selalu otak kanan dalam setiap pembelajaran anak. Analogkan dengan gambar, warna, dimensi, atau ruang sehingga lebih mudah diingat. Tekankan juga mengenai manfaat satu mata pelajaran jika anak sudah tidak suka dengan mata pelajaran tersebut. Ciptakan suasana positif dalam belajar, jadikan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan," tuturnya.

(A-157) pikiran Rakyat

Tuesday, June 24, 2008

Don't Let The Sun Go Down On Me


As usual… After watched the Oprah Show… enjoying my coffee time alone in the middle of the week…
Lagi abis ngebahas soal The Miracle of the Middle Age. Lagi banyak nara sumber dari wanita-wanita yang turn to 40 and 50.
Still 5 years to go for me buat jadi 40. Tapi kok kayaknya akhir2 ini, hidup gw terasa begitu melambat dan rasanya gw kehilangan my spirit of womanhood. Semuanya terasa begitu loss in control dan sampai pada keadaan kadang-kadang… I don’t know who I am dan kehilangan makna dari apa yang gw perjuangkan selama ini.
Dan keadaan ini sangat membuat emosi gw up and down. Bday kmrn gw nyaris tidak bangun dari tempat tidur. Mungkin orang-orang di sekitar gw menganggap itu bagian dari hobby tidur gw dan krn hari itu hujan sepanjang hari. Tetapi honestly… that’s the way I want to spend my special day. Gw berharap tertidur dari tanggal 13 malam dan terbangun di tanggal 15.I tried so hard to be positive and happy but sometimes we have to face the reality the way it is.

And watching Oprah today (and pray hard this whole week) I’m starting to cherish my days (again).

Beberapa wanita mulai menemukan apa yang dia inginkan dalam kehidupan mereka di usia mereka yang ke 50. Dan gw bersyukur sekali gw diberanikan melangkah di usia yang jauh di bawah mereka.
Di usia ke 32 gw keluar dari satu perusahaan yang memberikan gw comfort zone yang luar biasa. Waktu itu gw berpikir… I am the luckiest woman on earth. Dapat kerjaan yang ok dengan gaji yang ok. Disayang ama bos (at least gw merasa disayang, gak tahu kl ke GR-an hehehe…), dapat mobil sendiri biarpun mobil kantor, dapat memenuhi hobby travelling gw dan nginep di hotel2 berbintang.
Tapi ‘beruntung’ gw punya suami yang selalu ngga betah hidup di comfort zone. Dia yang selalu (dengan caranya) mendorong gw untuk expand my capacity.
Dari situ akhirnya gw memutuskan untuk kembali belajar hal baru. Dan sekarang, di usia yang ke 35 gw ud punya 2 klinik sendiri (biarpun kongsian, yang penting ud owner kan…? Hehehe…)
And I look at my life now… kemudian mencoba mengerti apa yang di bahas dalam acara Oprah yang gw tonton barusan… Setiap tahap dari kewanitaan kita adalah usaha untuk mengerti siapa diri kita, apa yang kita sukai dan kemudian open up our wings and fly as high as we can.
Dari waktu ke waktu, kita menjalani kehidupan ini dengan begitu cepatnya… sampai terkadang kita lupa memaknai setiap waktu yang terlewat melintas dalam hari-hari kita.
Kita mencapai usia 20 dan begitu excitednya menghadapi kelulusan sekolah kita, hari pertama di kerjaan, kekasih yang berganti, mempersiapkan hari-hari menjelang pernikahan, bahkan merawat anak-anak yang masih balita… tanpa menyadari usia beranjak ke angka 30…
Di usia 30.. kita mulai menyadari banyak hal, kesalahan-kesalahan yang kita buat dan kemudian berusaha menjadi lebih baik. Many ups and downs… bahkan kadang kita tidak mampu melaluinya krn semuanya terasa begitu… tidak tertolong lagi…
Sampai kemudian… waktu berlalu dan kita mencapai usia 40… kita masih belum menyadari apa yang kita mau dalam kehidupan kita kecuali menghabiskan hari demi hari untuk memenuhi hidup sehari-hari.

My marriage life is like a rollercoaster. Especially when you have a husband with visions and never feel comfort in his comfort zone.
But I think… (I think lho… kadang kl lagi ngga ‘dong’ suka cape juga hehehe…) this is my blessing.
At the age of 35… I learn so much.
I learn about my self, my emotions, my dreams, my purpose of life, and day by day I never let the sun go down on me!
I keep talking to my self how precious I am. How God loves me and He gives me so much that I can open up my wings and fly…
Kadang orang bilang gw narsis, tapi tanpa maksud apapun yang membuat org terganggu dengan itu… gw melakukan itu untuk terus mengingatkan ke diri gw… kalau gw punya a big big big potential to grow! Karena kadang kenyataan tidak mengatakan itu ke hari-hari gw… bahkan kadang gw merasa it’s time to quit! Tetapi ada seseorang yang pernah bilang: I do not believe in failure. It is not failure if you enjoyed the process.

So… Now I’m in that process. And I cherish my sanctuary time like this… to reflect and gain all the power that I have and never ever let the sun go down.. no matter how old I am! No matter how many failed things I did… I am a woman in process. I'm just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull.

I never let the sun go down on me!

Yeaaaahhhh…

Wednesday, June 11, 2008

Our reflection: Apa yang terlintas di pikiran kita saat muncul kata: MAMA?


Di milis CatWoG, kita lagi rame cerita-cerita soal MAMA kita. Ceritanya kita lagi ngumpulin pooling pendapat soal MAMA kita. Untuk inspirasi buku yang mungkin akan ditulis bersama oleh beberapa anggota CatWoG.
Dan ini adalah tulisan gw soal MY MOM:

Sekarang giliran gw deh...

Barusan gw abis nganter nyokap ke RS, karena tensi dia tinggi banget plus menurut gw sih ud ada stroke/ penyumbatan ringan di otaknya (besok mau scan)


Gw suka bilang, ada 2 org di dunia ini yang gw paling sebel, kl akhirnya gw harus mengakui... bahwa mereka benar. Pertama adalah nyokap gw, yang kedua adalah suami gw.
Tapi kedua org ini adalah org2 dalam kehidupan gw yang menjadi 1 daging dengan gw...

Nyokap gw krn gw ada di kandungannya selama 9 bulan, dan suami gw krn kata Kitab Suci kan kita sekarang bukan lagi 2 melainkan 1.


Ingat masa2 dulu, gw sering sekali berontak sama nyokap krn dia terlalu rohani.
Bahkan sampe sekarangpun gw jadi ngga terlalu suka yang rohani2 banget, mgkn gara2 itu.
Bukan masalah ngga mau dekat sama Tuhan, tapi mgkn lebih karena pemberontakan gw.


Tapi nyokap buat gw adalah sosok yang membuat gw menjadi seperti hari ini.

Sesebel-sebelnya gw... tadi gw tetep nangis waktu dibilangin nyokap harus ke RS gara2 mukanya ud baal dan krn gw dokter gw tahu kemungkinan2 yang bisa terjadi, biarpun gejalanya hanya baal doang.

Gw takut kehilangan seseorang yang membuat gw ada selama ini. Dan ini menyadarkan gw... kalau I am her legacy in this world.

Gw sering bilang... "Amit-amit... gw ngga mau kayak nyokap gw...!!!"
tanpa gw sadari, banyak hal yang gw lakukan... kok makin lama makin mirip dia... (ampppppunnnn... :p)

Jadi ya... itu kira2 pandangan gw soal Mama...

Dia sosok yang sangat mencintai Tuhannya dan gw yakin gw bertahan juga karena doa2 dia buat gw.

So kapanpun... se berontak-berontaknya gw ke nyokap..

She's still (always be) my mom... And I love her so very much!

Monday, August 20, 2007

A Woman for All Vocations


by Donna-Marie Cooper O'Boyle

Can a woman like me aspire to emulate such an amazing woman—the Virgin Mother of God, the first disciple, the matriarch of the Holy Family, and the Mother of the Church? Recalling instances in Mary’s life, we call to mind her gentleness, humility, holiness, perseverance, selflessness, and unwavering faith.

I ask myself this because I know I will never accomplish what our Blessed Mother has, or even come close to her holiness. Yet all women are called to holiness—whether in the sublime role of raising children, as a wife, as a single woman, or as a woman religious. And Mary demonstrates attributes and virtues that all women can emulate, whatever their vocation.

Mary’s deep faith was the foundation of her great holiness. Even though Mary was the Mother of God, we should remember that Mary was human like us and prayed to be unwavering in her faith, just as we also are called to do. Mary’s faith is the same gift available to us. We can ask Mary to be a mother to us and guide us closer to her Son, Jesus.

A Faithful Heart
Wanting to imitate Mary’s virtues, we may try to figure out what made her tick. Images from our Catholic tradition and Scripture may come to mind. We may be reminded of Mary as a faithful Jewish girl praying with her people in Palestine for the coming of the Messiah, the fulfillment of God’s promises. Mary was familiar with Isaiah’s words that a virgin would conceive and bear a child called Immanuel—“God with us”—but never imagined that she would be that virgin.

At times, we find ourselves in situations requiring faith in God, but our humanness causes us to feel inadequate or to fear that we are not faithful enough. When I hemorrhaged at 10 weeks pregnant with my fifth child, I was required to have faith that God’s holy will would be fulfilled, whatever it would be.

My doctor told me that I was miscarrying and conducted an ultrasound to check on the baby. When the ultrasound revealed a tiny baby with a beating heart, I was ordered to stay on complete bed rest and just wait. The doctor added that he wished the miscarriage would hurry up, saving me from further anguish.

I shuddered at his words and chose to hope instead. I rested and waited and never stopped praying. My four children bustled around me as I did my best to stay still and have faith in whatever it was that God had planned for us. I knew Bl. Teresa of Calcutta at the time, and she instructed me to call upon the Blessed Mother and to wear a Miraculous Medal that she had given me. She reminded me to trust in Our Lord, stay close to Mary, and pray, “Mary, Mother of Jesus, be a mother to me now.”

Our prayers were heard, and after a long nine months Mary-Catherine was born! In retrospect, I can understand why Our Lord may have given me another reason to pause during that pregnancy: While I was kept still, I was inspired to write about motherhood. These reflections have since been published. As a busy mother with four children and another on the way, I might never have had a spare moment to sit down to write! Our Lord knew what He was doing.

Humble Generosity and Courage
We know that when the angel Gabriel visited Mary with the announcement that she would become Jesus’ mother (Lk. 1:26–39), the humble teenager found it difficult to believe that it was she, a simple girl, who was chosen by God. Taking the blessing to heart, Mary responded with her courageous “yes” to God.

Shortly afterward, her generous heart sent her on a journey into the hill country, pregnant and “in haste,” to help her cousin Elizabeth, who was much older and also expecting a child (Lk. 1:39). Mary surely prayed and reflected throughout her journey, while the blessedness of Jesus dwelled within her. After Elizabeth’s baby leaped in her womb upon Mary’s arrival, the two women embraced. Elizabeth praised Mary for her great faith, and Mary humbly responded with the words of the Magnificat, glorifying God’s holiness, justice, and mercy, and foretelling that all generations would call her blessed because of the great things the Lord had done in her (Lk. 1:46–55).

When we question our own ability to courageously answer God with our “yes” when He bids us to follow Him, we must remember that, as women, we are also blessed with generous and courageous hearts like Mary’s. Graces are available to us to be courageous and to respond with love in all situations within our vocations. Throughout our daily lives, we are presented with many opportunities to put our own needs aside and go “in haste” to help—to help our children, our spouses, our parents, our neighbors, our coworkers, or whomever God has put into our lives.

The Simplicity of Love
Mary was led on a donkey by her beloved husband, Joseph, in search of a place to give birth and faced only rejection by the innkeepers. Soon afterward, Jesus’ infant cries were comforted at His mother’s breast in a stable. Our King and Savior was born into poverty, resting in a wooden manger of hay—hardly what is expected for a King’s birth! Angels sent simple shepherds to Mary and Joseph to see their holy baby. Mary “kept all these things, pondering them in her heart” (Lk. 2:19).

When we women face rejection in one form or another, we can pray for the graces we need to continue on, just as Mary did at the inns and later, when she felt the sting of the rejection of her Son by the very people He helped.We can imagine Mary throughout the hidden years, teaching Jesus on her knee in the warmth of their humble home. As Jesus grew, Mary surely encouraged her Son to help Joseph in his carpentry. Mary’s faith deepened in the cenacle of prayer that she fostered in the heart of her home.

Mothers, too, live through hidden years, raising their families and trying to remain simple. Especially when children are young, mothers may find themselves housebound with the care of the family, children’s illness, or infants too small to go out. Mothers can make their home a “domestic Church,” as Pope John Paul II and Pope Benedict XVI have spoken of, by praying within the home, teaching the children, and thanking God for the blessedness of their families and the opportunities to care for them.

“Do whatever he tells you”
At the start of Jesus’ public ministry, sympathetic that a bride and groom were without wine, Jesus’ mother told Him, “They have no wine.” While Jesus appeared reluctant to perform His first miracle, saying that His hour had not yet come, Mary confidently told the wine stewards to “do whatever he tells you” (Jn. 2:2–11). Mary’s initiative, intercession, and obedience ultimately nudged on her Son. Thus, the power of a mother’s love brought about Jesus’ first public miracle.

Women, as mothers, have within reach the tremendous power of prayer. A mother has the ability to influence her children for better or for worse. A faithful mother’s prayers will always be heard by God. In their intercessory role, faithful mothers are forever praying for the welfare of their children, both for those living at home and for those who are grown and may have strayed away from the Church. A mother’s prayers can be just as efficacious as those of our Blessed Mother and have the power to work miracles in human hearts.

The Heart of the Home
Women can learn from Mary as one who listened to God and allowed the Holy Spirit to inspire and guide her. She gave herself completely to the will of the Father. We learn from Mary that a mother’s prayer is powerful. When we are asked to endure suffering or pain within our vocation, we can turn our thoughts to Mother Mary, who was no stranger to suffering, and ask her assistance and intercession.

When it is difficult to trust in God, we women can meditate on Mary’s faithful trust in Our Lord, drawing strength from her as we pray for guidance from the Holy Spirit. When those of us who are mothers experience the deep joy within our role, we can feel an affinity with someone who has also experienced this deep joy in mothering Jesus.

Mary’s marvelous “yes” to God changed the entire world for all eternity. May all faithful women also courageously answer Our Lord, “Let it be done to me according to your word,” as they strive to live holy lives and raise their families in a cenacle of prayer fostered in their homes, pondering it all deep within their own hearts and setting an example for all women.

Sunday, August 19, 2007

Women... by my beloved JP II

Pope John Paul II has majestically portrayed the charism and genius of femininity in his apostolic letter"Mulieris Dignitatem"

According to the Holy Father, the essential components of women are so exemplary as regards the sincere gift of self, that this can be compared to the great mystery of the Church as Spouse united to Christ. The Pope underlines the special sensitivity that woman has for man, and, indeed, for everything essentially human, and which is expressed in the natural tendency to especially direct her attention toward some particular person.

The woman's personality, given her tremendous capacity of love, cannot fulfill itself except by giving love to others.
Her strength lies precisely in the gift of self, and in the fact that God entrusted man to her. "Thus the 'perfect woman' (Proverbs 31:10) becomes an irreplaceable support and source of spiritual strength for other people, who perceive the great energies of her spirit."

Quotes by Women who inspire my life.

"My philosophy is that not only are you responsible for your life, but doing the best at this moment puts you in the best place for the next moment." (by Oprah Winfrey)

"Hidup benar di hadapan Tuhan. Percayalah... apa yang kau buat pasti berhasil!"
(by my mom)


"Spread love everywhere you go: first of all in your own house. Give love to your children, to your wife or husband, to a next door neighbor. Let no one ever come to you without leaving better and happier. Be the living expression of God's kindness; kindness in your face, kindness in your eyes, kindness in your smile, kindness in your warm greeting."
(by Mother Teresa)