Showing posts with label love for others. Show all posts
Showing posts with label love for others. Show all posts

Saturday, December 13, 2008

Persahabatan Bagai Kepompong

Semalam gw datang ke satu pertemuan yang mengingatkan naik turunnya persahabatan gw dengan satu sahabat lama gw.

Kami ketemu saat kami masuk ke FK tahun 1991 sebagai anak baru. Kegiatan kuliah, hang out, ngafe, bulu tangkis, belajar bareng jadi kegiatan kami bersama. Sampai tahun 1995 kami berdua pergi ke satu retreat bersama dan sejak itu kami berdua tambah dekat.
Setelah itu banyak naik turun kehidupan kami yang membuat kami berdua makin dekat, nyaris tak terpisahkan.

Tetapi seperti judul lagu yang lagi beken… Persahabatan bagai Kepompong.. ada masanya kami ada di satu kondisi di mana persahabatan terasa selesai dan tidak mungkin dapat disambung lagi. Semua kedekatan yang terjadi seperti punah dan tidak ada artinya lagi.
Saat2 itu persahabatan kami memang jadi seperti kepompong yang buruk rupa, ‘dormant’ stage dan ngga tahu kapan berubahnya. Kami tidak bermusuhan, tapi kami tidak juga saling bicara selama 7 tahun penuh…
Jujurnya.. gw melewatkan pernikahan gw dengan tidak mempunyai MoH krn selama ini gw berpikir, dia yang akan jadi MoH gw.. (thanks to Sianita yang bersedia jadi Bride’s Maid gw.. hehehe..)

Tetapi apa yang gw alami semalam membuat gw banyak merefleksikan persahabatan ini.
Gw memuji Tuhan buat 17 tahun pertemanan dan persahabatan yang terjalin diantara kami… and yes.. we’ve been through a lot! Up and down moments in our lives.
Dan di waktu2 ini, 1 tahun yang lalu kami kembali bicara, saling memaafkan dan kembali ada dalam kehidupan masing-masing.
Waktu dan segala yang terjadi mendewasakan kami. Mungkin persahabatan kami tidak seperti dahulu, di mana kami bisa saling nginap satu sama lain dan ngobrol sampe jam 5 pagi di telpon… di masa2 kuliah kami. Tapi melewati 12 tahun kedekatan kami, 1 hal yang pasti… semua terjadi untuk mendewasakan kami.


Persahabatan bagai kepompong. Yang berproses dan hari ini menjadi indah dan dewasa. Mudah-mudahan menjadi berkat bagi sesama… :-)

Friday, August 29, 2008

Georgia on My Mind

Georgia, Georgia
The whole day through (the whole day through)
Just an old sweet song
Keeps Georgia on my mind (Georgia on my mind)
I said a Georgia, Georgia
A song of you (a song of you)
Comes as sweet and clear as moonlight through the pines
Other arms reach out to me
Other eyes smile tenderly
Still in the peaceful dreams I see
The road leads back to you


Di tengah pesta dan keramaian, jeritan kemenangan dan pekik suka cita pesta Olympiade Beijing 2008 lalu, di sisi lain dari belahan dunia, tidak jauh dari keramaian itu ada pekik dan jeritan lain yang terdengar. Di mana ratusan orang yang tidak berdosa berteriak di tengah ke sakitan, kehilangan sanak saudara dan tempat berteduh. Hidup mereka yang tadinya tenang, tiba-tiba berubah menjadi guncangan dan kegelapan masa depan. Bom-bom yang dilepaskan rusia datang silih berganti, dan semua seperti memporak-porandakan hati mereka.

I said Georgia, oh Georgia, no peace I find (no peace i find)
Just an old sweet song
Keeps Georgia on my mind (Georgia on my mind oh)
Other arms reach out to me
Other eyes smile tenderly
Still in peaceful dreams I see
The road leads back to you
Oh Georgia,
No peace, no peace I find
Just an old, sweet song
Keeps Georgia on my mind (Georgia on my mind)

Waktu gw kecil dulu, gw pernah bilang ke nyokap… “Lia pengen pergi ke tempat perang, pengen jadi wartawan perang… kayaknya seru…!” Lalu bertahun-tahun kemudian, setelah gw kelar jadi dokter gw berpikir, “Gw pengen pergi jadi dokter di medan perang… asik juga kayaknya ikut red Cross…”

Tapi yang namanya perang ngga pernah seru! Perang selalu membawa luka… bukan saja buat bumi (karena habis di bom-bom in), tetapi terutama buat hati-hati yang hidup di tanah tersebut. Hati-hati yang hancur karena banyak kehilangan. Entah kenapa tadi pagi, saat jam doa gw di mobil, kok tiba-tiba lagu Georgia terdengar di kuping gw, dan tanpa sadar gw memanjatkan salam Maria buat perang di Georgia (biarpun yang gw tahu lagu Georgia itu bukan untuk negara yang sedang perang ini… hehehe)

Setan terus menancamkan ‘kuku’nya lewat kebencian, kesombongan, keserakahan manusia… Gw sendiri ngga habis pikir.. apa sih yang mereka cari dari perang itu. Yahhh.. alasan sih pasti ada aja, tapi apakah itu yang mau disumbangkan bagi kehidupan yang cuma sebentar ini…? yes… no peace I found, just an ‘old sweet’ song…

Other arms reach out to me
Other eyes smile tenderly
Still in peaceful dreams I see
The road leads back to you
Oh Georgia, Georgia
No peace, no peace I find
Just an old sweet song
Keeps Georgia on my mind (Georgia on my mind)
I said just an old sweet song
Keeps Georgia on my mind


Yes.. lets pray for Georgia. Mari bersama menjadi salah satu penghuni dunia yang membawa kedamaian bukan perang. Membawa kasih bukan kebencian. Berbagi hidup bukan mengambil hidup.

Peace not war, Love instead of hate, Lets heal the world and make it better place.

Lets pray hard to Mother Mary for the peace of Georgia. And I said just an old sweet song, that keeps Georgia on my mind,…

and on my pray!

Tuesday, May 6, 2008

My Journey as A Medical Doctor

Perjalanan perkenalan saya dengan dunia kedokteran dimulai bulan Agustus 1991. Saat itu saya menjadi mahasiswi tingkat pertama dari sebuah Universitas di Jakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya.

Tahun-tahun belajar di sana, memberikan ilmu dasar dan sensasi awal rasanya memakai jas putih dan dipanggil dengan sapaan "Dok...!"

Rasanya demikian melambung tinggi, dan berbagai idealisme tentang pendidikan, pengobatan, dan pasien rasanya meluap di hati dan otak saya.
Sampai dari waktu ke waktu... semuanya itu mulai pupus perlahan. Kenyataan demi kenyataan mengajarkan saya untuk tidak membawa kesulitan masa depan dalam 1 hari, dan kembali melihat perjalanan saya menjadi seorang dokter adalah perjalanan kemanusiaan.

Akhirnya Juli 2000 saya melakukan sumpah profesi. 9 tahun berlalu dengan 2 1/2 tahun proses ngantri untuk masuk ke coas dan ujian negara, serta 6 1/2 tahun masa pendidikan. Dan waktu itu saya memutuskan untuk bekerja dulu di salah satu perusahaan farmasi sambil menunggu panggilan PTT. Tetapi karier yang membaik membuat saya sempat melupakan impian untuk praktek. Sampai satu hari saya menyadari... bertemu pasien adlah hidup saya.Melihat mereka membaik dari waktu ke waktu adalah impian saya. Dan membuat mereka tersenyum bahagia adalah tujuan keilmuan saya.

Kekecewaan demi kekecewaan mendera. Dan saya memutuskan, harus keluar dari dunia farmasi sebelum saya malu mengakui diri saya sebagai dokter. Politik perdagangan obat, kerjasama dokter dan farmasi yang makin lama makin tidak masuk akal, pemakaian obat yang sangat tidak relevan, semua membuat saya memiliki cara pandang yang mungkin extreem dan sulit diterima oleh teman sejawat lainnya.

Dan sampailah saya pada pengenalan akan Biophysic Medicine. Satu ilmu komplementer yang membuka wawasan baru dalam dunia kedokteran saya. Membawa pikiran saya "out of the box" dan melihat betapa tubuh manusia adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa.
Dulu di dunia kedokteran konvensional, tidak habisnya saya berdecak kagum.
Hari ini... tidak habisnya saya mensyukuri... keberadaan saya di dunia yang sarat dengan keajaiban dan kebesaran. Dari yang terlihat sampai yang tidak terlihat. Dari yang terjangkau, sampai yang tidak terjangkau. Dan semuanya itu... ingin saya persembahkan untuk kemanusiaan.
Kalau dari awal... semuanya adalah satu impian untuk kemanusiaan, biarlah semua proses ini juga dapat membantu banyak orang... untuk dapat memaknai dan mensyukuri kehidupannya.

Quotes from Medical World:

In nothing do men more nearly approach the gods than in giving health to men. ~Cicero

The greatest mistake in the treatment of diseases is that there are physicians for the body and physicians for the soul, although the two cannot be separated. ~Plato

Body and soul cannot be separated for purposes of treatment, for they are one and indivisible. Sick minds must be healed as well as sick bodies. ~C. Jeff Miller

In the sick room, ten cents' worth of human understanding equals ten dollars' worth of medical science. ~Martin H. Fischer

It is a mathematical fact that fifty percent of all doctors graduate in the bottom half of their class. ~Author Unknown

Restore a man to his health, his purse lies open to thee. ~Robert Burton

I got the bill for my surgery. Now I know what those doctors were wearing masks for. ~James H. Boren

A hospital should also have a recovery room adjoining the cashier's office. ~Francis O'Walsh

Did God who gave us flowers and trees,
Also provide the allergies?
~E.Y. Harburg, "A Nose Is a Nose Is a Nose," 1965

I learned a long time ago that minor surgery is when they do the operation on someone else, not you. ~Bill Walton

It is a wise mans part, rather to avoid sickness, than to wishe for medicines. ~Thomas More, Utopia [sic]

I wondher why ye can always read a doctor's bill an' ye niver can read his purscription. ~Finley Peter Dunne

You have a cough? Go home tonight, eat a whole box of Ex-Lax - tomorrow you'll be afraid to cough. ~Pearl Williams

To array a man's will against his sickness is the supreme art of medicine. ~Henry Ward Beecher

A doctor whose breath smells has no right to medical opinion. ~Martin H. Fischer

Surgeons must be very careful
When they take the knife!
Underneath their fine incisions
Stirs the Culprit - Life!
~Emily Dickinson

It is a good thing for a physician to have prematurely grey hair and itching piles. The first makes him appear to know more than he does, and the second gives him an expression of concern which the patient interprets as being on his behalf. ~A. Benson Cannon

A doctor who cannot take a good history and a patient who cannot give one are in danger of giving and receiving bad treatment. ~Author Unknown

One thousand Americans stop smoking every day - by dying. ~Author Unknown

A hypochondriac is one who has a pill for everything except what ails him. ~Mignon McLaughlin, The Second Neurotic's Notebook, 1966

The art of medicine consists in amusing the patient while nature cures the disease. ~Voltaire

A doctor must work eighteen hours a day and seven days a week. If you cannot console yourself to this, get out of the profession. ~Martin H. Fischer

It is sometimes as dangerous to be run into by a microbe as by a trolley car. ~J.J. Walsh

Every disease is a physician. ~Irish Proverb

God heales, and the Physitian hath the thankes. ~George Herbert, Outlandish Proverbs

Drugs are not always necessary. Belief in recovery always is. ~Norman Cousins

I firmly believe that if the whole materia medica could be sunk to the bottom of the sea, it would be all the better for mankind and all the worse for the fishes. ~Oliver Wendell Holmes

There is no curing a sick man who believes himself to be in health. ~Henri Amiel

Doctors think a lot of patients are cured who have simply quit in disgust. ~Don Herold

The only equipment lack in the modern hospital? Somebody to meet you at the entrance with a handshake! ~Martin H. Fischer

The worst thing about medicine is that one kind makes another necessary. ~Elbert Hubbard

When you are called to a sick man, be sure you know what the matter is - if you do not know, nature can do a great deal better than you can guess. ~Nicholas de Belleville

Throw physic to the dogs; I'll none of it. ~William Shakespeare

I recently became a Christian Scientist. It was the only health plan I could afford. ~Betsy Salkind


Poisons and medicine are oftentimes the same substance given with different intents. ~Peter Mere Latham

In the nineteenth century men lost their fear of God and acquired a fear of microbes. ~Author Unknown

Symptoms, then are in reality nothing but the cry from suffering organs. ~Jean Martin Charcot, translated from French

I never read a patent medicine advertisement without being impelled to the conclusion that I am suffering from the particular disease therein dealt with in its most virulent form. ~Jerome K. Jerome, Three Men in a Boat

Diagnosis is not the end, but the beginning of practice. ~Martin H. Fischer

The physician should look upon the patient as a besieged city and try to rescue him with every means that art and science place at his command. ~Alexander of Tralles

Physicians and politicians resemble one another in this respect, that some defend the constitution and others destroy it. ~Author Unknown

A smart mother makes often a better diagnosis than a poor doctor. ~August Bier

When fate arrives the physician becomes a fool. ~Arabic Proverb

Medicines are not meat to live by. ~German Proverb

Treat the patient, not the Xray. ~James M. Hunter

God and the Doctor we alike adore
But only when in danger, not before;
The danger o'er, both are alike requited,
God is forgotten, and the Doctor slighted.
~Robert Owen

Financial ruin from medical bills is almost exclusively an American disease. ~Roul Turley

The hospital is the only proper College in which to rear a true disciple of Aesculapius. ~John Abernethy

A man who cannot work without his hypodermic needle is a poor doctor. The amount of narcotic you use is inversely proportional to your skill. ~Martin H. Fischer

Better to hunt in fields, for health unbought,
Than fee the doctor for a nauseous draught,
The wise, for cure, on exercise depend;
God never made his work for man to mend.
~John Dryden

Medicine is the only profession that labours incessantly to destroy the reason for its own existence. ~James Bryce, 1914

It is not a case we are treating; it is a living, palpitating, alas, too often suffering fellow creature. ~John Brown

The patient does not care about your science; what he wants to know is, can you cure him? ~Martin H. Fischer

Medicines heals doubts as well as diseases. ~Karl Marx

A physician is obligated to consider more than a diseased organ, more even than the whole man - he must view the man in his world. ~Harvey Cushing

Medicine sometimes snatches away health, sometimes gives it. ~Ovid, Tristia

As it takes two to make a quarrel, so it takes two to make a disease, the microbe and its host. ~Charles V. Chapin

Disease is war with the laws of our being, and all war, as a great general has said, is hell. ~Lewis G. Janes

Until a physician has killed one or two he is not a physician. ~Kashmiri Proverb

No man is a good doctor who has never been sick himself. ~Chinese Proverb

Only one rule in medical ethics need concern you - that action on your part which best conserves the interests of your patient. ~Martin H. Fischer

To me the ideal doctor would be a man endowed with profound knowledge of life and of the soul, intuitively divining any suffering or disorder of whatever kind, and restoring peace by his mere presence. ~Henri Amiel

Medicinal discovery,
It moves in mighty leaps,
It leapt straight past the common cold
And give it us for keeps.
~Pam Ayres

When you no longer know what headache, heartache, or stomachache means without cistern punctures, electrocardiograms and six x-ray plates, you are slipping. ~Martin H. Fischer

It is easy to get a thousand prescriptions but hard to get one single remedy. ~Chinese Proverb

Never forget that it is not a pneumonia, but a pneumonic man who is your patient. ~William Withey Gull

It is said to be the manner of hypochondriacs to change often their physician. ~William Cullen, Practice of Physic

The road to medical knowledge is through the pathological museum and not through an apothecary's shop. ~William Withey Gull

A Short History of Medicine
2000 B.C. - "Here, eat this root."
1000 B.C. - "That root is heathen, say this prayer."
1850 A.D. - "That prayer is superstition, drink this potion."
1940 A.D. - "That potion is snake oil, swallow this pill."
1985 A.D. - "That pill is ineffective, take this antibiotic."
2000 A.D. - "That antibiotic is artificial. Here, eat this root."
~Author Unknown

When a lot of remedies are suggested for a disease, that means it cannot be cured. ~Anton Chekhov, The Cherry Orchard

A half doctor near is better than a whole one far away. ~German Proverb

No doctor is better than three. ~German Proverb

I will lift mine eyes unto the pills. Almost everyone takes them, from the humble aspirin to the multi-coloured, king-sized three deckers, which put you to sleep, wake you up, stimulate and soothe you all in one. It is an age of pills. ~Malcolm Muggeridge, 1962

Man may be the captain of his fate, but is also the victim of his blood sugar. ~Wilfrid G. Oakley

Faith and knowledge lean largely upon each other in the practice of medicine. ~Peter Mere Latham

Each patient ought to feel somewhat the better after the physician's visit, irrespective of the nature of the illness. ~Warfield Theobald Longcope

Who ever thought up the word "Mammogram?" Every time I hear it, I think I'm supposed to put my breast in an envelope and send it to someone. ~Jan King
Never go to a doctor whose office plants have died. ~Erma Bombeck
You may know the intractability of a disease by its long list of remedies. ~Alonzo Clark

Here's good advice for practice: go into partnership with nature; she does more than half the work and asks none of the fee. ~Martin H. Fischer

Varicose veins are the result of an improper selection of grandparents. ~William Osler

If you are too smart to pay the doctor, you had better be too smart to get ill. ~African Proverb

When you treat a disease, first treat the mind. ~Chen Jen

Symptoms are the body's mother tongue; signs are in a foreign language. ~John Brown

The doctor of the future will give no medicine but will interest his patients in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease. ~Thomas Edison

Oh the powers of nature. She knows what we need, and the doctors know nothing. ~Benvenuto Cellini

So many come to the sickroom thinking of themselves as men of science fighting disease and not as healers with a little knowledge helping nature to get a sick man well. ~Auckland Geddes, The Practitioner

Where a man feels pain he lays his hand. ~Dutch Proverb

The doctor is often more to be feared than the disease. ~French Proverb

Despite all our toil and progress, the art of medicine still falls somewhere between trout casting and spook writing. ~Ben Hecht, Miracle of the Fifteen Murderers

The Lord hath created medicines out of the earth; and he that is wise will not abhor them. ~Ecclesiasticus 38:4

A drug is that substance which, when injected into a rat, will produce a scientific report. ~Author Unknown

Cancer is a word, not a sentence. ~John Diamond

The medicalization of early diagnosis not only hampers and discourages preventative health-care but it also trains the patient-to-be to function in the meantime as an acolyte to his doctor. He learns to depend on the physician in sickness and in health. He turns into a life-long patient. ~Ivan Illich

Patients may recover in spite of drugs or because of them. ~J.H. Gaddum

He's the best physician that knows the worthlessness of the most medicines. ~Benjamin Franklin

Physiology is the stepchild of medicine. That is why Cinderella often turns out the queen. ~Martin H. Fischer

The field of Western medicine has become literally nothing but medicine. Doctors are on their way out, to be replaced by self-serve pharmaceutical vending machines. ~Grey Livingston

The fact that your patient gets well does not prove that your diagnosis was correct. ~Samuel J. Meltzer

Man is a creature composed of countless millions of cells: a microbe is composed of only one, yet throughout the ages the two have been in ceaseless conflict. ~A.B. Christie

Our profession is the only one which works unceasingly to annihilate itself. ~Martin H. Fischer

On J-Day our profession will have a lot to answer for! We might at least have withheld our hands instead of making them work against God. ~Martin H. Fischer

The doctor may also learn more about the illness from the way the patient tells the story than from the story itself. ~James B. Herrick

Don't think of organ donations as giving up part of yourself to keep a total stranger alive. It's really a total stranger giving up almost all of themselves to keep part of you alive. ~Author Unknown

Most of those evils we poor mortals know
From doctors and imagination flow.
~Charles Churchill

Men are not going to embrace eugenics. They are going to embrace the first likely, trim-figured girl with limpid eyes and flashing teeth who comes along, in spite of the fact that her germ plasm is probably reeking with hypertension, cancer, haemophilia, colour blindness, hay fever, epilepsy, and amyotrophic lateral sclerosis. ~Logan Clendening

Don't take your organs to heaven with you. Heaven knows we need them here. ~Author unknown, attributed to both Dan and Barbara Hladio and Thomas Boyadjis, Sr.

'Tis not always in a physician's power to cure the sick; at times the disease is stronger than trained art. ~Ovid

And lo, The Hospital, grey, quiet, old, Where Life and Death like friendly chafferers meet. ~William Ernest Henley

For the most part, Western medicine doctors are not healers, preventers, listeners, or educators. But they're damned good at saving a life and the other aspects kick the beam. It's about time we brought some balance back to the scale. ~Claire Todae

A sweating ovary or a sick prostate explains most history. ~Martin H. Fischer

The only weapon with which the unconscious patient can immediately retaliate upon the incompetent surgeon is hemorrhage. ~William Stewart Halsted

The public blabbers about preventative medicine, but will neither appreciate nor pay for it. You get paid for what you cure. ~Martin H. Fischer

To save a man's life against his will is the same as killing him. ~Horace

Nowadays the clinical history too often weighs more than the man. ~Martin H. Fischer

Hypochondriacs squander large sums of time in search of nostrums by which they vainly hope they may get more time to squander. ~Mortimer Collins

One doctor makes work for another. ~English Proverb

Doctors are just the same as lawyers; the only difference is that lawyers merely rob you, whereas doctors rob you and kill you, too. ~Anton Chekhov, Ivanov

Let the young know they will never find a more interesting, more instructive book than the patient himself. ~Giorgio Baglivi

Formerly, when religion was strong and science weak, men mistook magic for medicine; now, when science is strong and religion weak, men mistake medicine for magic. ~Thomas Szasz, The Second Sin, 1973

Monday, August 27, 2007

Mother Teresa... Amazing Soul of Hers


3 hari lalu saat sedang makan bersama, suami gw cerita soal tulisan mother teresa yang baru ditemukan dan dimuat di yahoo (untuk lengkapnya please visit: http://news.yahoo.com/s/time/20070823/wl_time/motherteresascrisisoffaith).

Ada 3 wanita yang sangat berpengaruh mewarnai kehidupan saya... pertama adalah my mom, lalu mother teresa dan yang terakhir... Ms. Oprah Winfrey! hehehe...

Dan tulisan mother teresa yang baru ditemukan ini membuat saya tercengang-cengang...


Dari seluruh kehidupan pelayanannya yang luar biasa... hampir setengahnya ia menjalaninya tanpa merasakan Tuhan dalam kehidupannya.
Ini membuat gw bener2 ngga habis pikir dan bener2 speachless...
She didn't feel God for almost half of her life... and yet... she always speaaked about Jesus.
Hatinya selalu terarah ke Tuhan dan melewati padang gurun yang tak ada habisnya... hanya Yesus yang menjadi kekasih jiwanya.
Dan dia.... memancarkan kasihNya kepada orang-orang di sekelilingnya.

I wish... I have that grace...
I wish... I bring smile and joy to everyone i meet.
I wish... I wish... this simple soul of mine filled with His love...
How I desire to love you Lord... more and more each day
And walk through my days in the world meaningful to others.

Tuesday, July 10, 2007

My Privilage, Seeing God in you! (3)

PART III

THE SOUND OF NATURE

Sound of Nature no.1

Saat kita kembali mendekati alam, kita akan banyak mengenali suara-suara alam yang tidak jarang kita perhatikan saat kita ad adi kota besar seperti Jakarta.

Bila saya ad adi kamar say adi rumah, begitu melek mata yang terdengar adalah… “Sayuuurrr” atau “Tiiiiii…” nya tukang roti, atau… horn lagu Give Thanks atau Walls atau apapun yang menyapa kita dan mengingatkan kita akan hari yang penuh dengan konsumerisme dan hedonisme di Jakarta.

Tapi pagi ini… bahkan sejak sebelum saya benar-benar membuka mata… saya (dan kami tepatnya) di sapa oleh… “U u u uuuuuuuuuuu…” Jangan-jangan itu ayam yang sama, yang saya sharingkan di tulisan saya tahun lalu. Paduan suara mereka begitu lengkap dari yang terendah (bass) sampai suara ayam yang sedang tercekik…

Tapi suara-suara itu menyapa saya dengan sapaan yang begitu ringan dan menentramkan hati. Seakan saya tidak dikejar-kejar sesuatu untuk memenuhi apapun. Suara-suara itu hanya ingin mengatakan,”Selamat Pagi! You’re loved”… hehehe… berlebihan ya? At least itu yang saya rasakan…

Sound of Nature no.2
Setelah semua siap mandi dsbnya, mulailah kesibukan kami dimulai. Memilah-milah obat yang akan di bawa.

Akhirnya setelah makan pagi… kami semua berkumpul di depan rumah untuk briefing.

Kami akan pergi ke 2 desa hari ini. Desa pertama adalah Desa Balong yang akan kami tempuh sekitar 45 menit perjalanan.

Kami memulai perjalanan kami, perjalanan ini tidak terlalu sulit. Tetapi sepanjang perjalanan, mata yang jarang sekali dihibur oleh alam ini, mendapati keindahan alam sepanjang perjalanan... Bukit-bukit hijau menyapa mata saya seakan berkata,“Selamat bekerja“ setiap lambaian pohon dan hijau daun seakan tersenyum kepada saya... dan saya memandang mereka dengan tersenyum. That’s my second sound of nature.

Terbayang oleh saya... bagaimana St. Fransiscus Asisi yang begitu mencintai alam seakan bisa berbicara dengan alam… saya merasakannya dan saya mengerti.

Sound of Nature no.3

Sesampainya di Balong, kami langsung masuk ke dalam Gereja (atau Kapel?) St.Yoseph. Kami berkumpul bersama dengan umat yang sudah menunggu di situ. Kebetulan saya duduk berdekatan dengan mereka. Sambil menunggu acara doa sebelum acara dimulai, saya menyempatkan ngobrol dengan mereka. Ibu itu tak henti-hentinya tersenyum, seakan gembira sekali saya ajak bicara. Hal-hal seperti ini membuat saya ’GR’. Reaksi mereka saat kita ajak berbicara, seakan mereka sedang diajak bicara oleh... orang yang begitu mereka harapkan.

And this sound of nature really touched my heart. Reaksi ini yang tidak saya dapatkan bila saya berhadapan dengan siapapun di kota besar. Bahkan kadang… saya juga sering tidak menghargai orang yang mengajak saya bicara.

Saya bertanya kepada ibu ini… (L=Lia ; I=Ibu)

L : “Sudah menunggu lama Bu…”

I : “Sudah… karena takut terlambat, harus jalan pagi-pagi”

L : ’’Oh... memang jalan dari rumah ke sini berapa lama ? ’’

I: ‘’ Seharusnya sekitar 1 jam, Cuma karena membawa 3 anak saya, jadi bisa agak lama sampai di sini ‘’

L‘ : ’Ibu mau ambil beasiswa ?’’ (hehehe... pertanyaan bodoh, melihat semua senjata perang yang di bawanya, pastilah dia mau ambil beasiswa)

I: ‘’ Iya, untuk anak sayang yang ini. Naik kelas 3 SD. 2 yang lain keponakan dan anak tetangga saya.’’

Tentu saja dengan bahasa bercampur Jawa dan lebih sederhana dari kata-kata di atas, tapi saya menuliskannya seperti ini karena saya lupa... J

Beasiswa yang diberikan untuk anak SD adalah Rp.44.000 untuk anak SD selama 6 bulan.

Dan Rp.44.000 ribu adalah : 1 x makan siang kita di mal Jakarta, 1 cup Ice Frapucino… gosshhhh… hidup rasanya kok tidak terlalu ramah di sini.

Tetapi senyum tetap menjawab ketidak ramahan itu…

Setelah acara doa selesai, dimulailah acara pengobatan… yang tidak saya sangka-sangka… berjubeeelllll berat…
Ketidak teraturan di hadapi membuat petugas pendaftaran harus pura-pura ‘ngambek’ berhenti bekerja supaya mereka mau antri.
Banyak hal yang seperti nya tidak masuk dalam peradaban dunia modern. Budaya ngantri misalnya.. tidak masuk dalam pengertian mereka.
Tetapi ironisnya… kadang semua aturan dan keberadaban membuat kita jadi melupakan banyak sisi-sisi kemanusiaan dan harkat hidup sesama.
Saat itulah perang terjadi di mana-mana, hak hidup manusia dengan mudahnya diambil tanpa kompromi, dan setelah itu kesengsaraan menjadi sahabat manusia.

Saya melihat ini semua dan bertanya dalam hati… kadang saya begitu meremehkan semua yang saya anggap ‘tak beradab’ tanpa saya ber refleksi… adakah hal-hal lain yang tak beradab yang saya lakukan…? Saya adalah seseorang yang mengerti budaya antri… tetapi apakah saya menjadi lebih baik dan lebih beradab dari mereka…?
Rasanya itu menjadi refleksi diri yang tak akan ada habisnya…

To be continued

Friday, July 6, 2007

My Privilege... Seeing God in you! (2) -Beautiful Moments with People from the Hills-

My Privilege... Seeing God in you! (2)

-Beautiful Moments with People from the Hills-


PREFACE

Tepat setahun yang lalu… saya pergi ke satu daerah yang mengubah banyak pandangan saya mengenai kehidupan.
Tahun lalu saya menuliskan pengalaman saya di satu tulisan yang berjudul “Printing a Galley of Blessing from the Poor” , dan tahun ini saya diberkati Tuhan karena saya dapat terus mendulang berkat itu.
Tahun ini saya pergi kembali bersama dengan P’Muljono, M’Nita, P’Herman, dan kakak kelas saya dr.Welly. Tetapi kali ini saya juga ditemani oleh suami tercinta, dan 12 orang sahabat dari kesehari-harian hidup saya di Jakarta. Keberadaan mereka membuat saya merasa… di mana-mana Tuhan memberkati saya dengan limpahnya. Kehadiran mereka (khususnya suami saya) membuat saya merasa setiap nafas saya, cinta Tuhan mengalir ingin memberkati saya.

Dengan rasa syukur itu… saya ingin kembali menulis lagi… memaparkan hal-hal yang tidak terlihat, terbayangkan oleh kehidupan kita di Jakarta yang serba gemerlap, di mana Tuhan rasanya sulit ditemukan karena kesibukan, kemudahan, segala yang instant, dan semua kecanggihan yang berlomba ingin melampaui Tuhan. Menara-menara Babel di bangun di setiap jengkal tanah dan di setiap sisi hati… membuat Tuhan menjadi begitu jauh.

Tetapi di Perbukitan Manoreh… tempat di mana tidak terlihat satupun bangunan tinggi, jarang terdengar dering telpon (apalagi bunyi HP), dan suara TV, di setiap pandangan yang saya lepas… hanya hijau menghampar dan di sana-sini selalu disuntingkan senyum dari orang-orang yang saya temui… tanpa pandangan takut dan curiga, tanpa prasangka dan … di sanalah saya merasakan kehadiran Tuhan… begitu dekat, begitu hangat, dan begitu nyata menyapa hati saya…

Dan inilah kisahnya…
_________________________________________________________

Best Wishes,
Lia Brasali Ariefano
Every woman has her own legacy. Nothing she could do to change it…
But she can decide how to live her legacy, and then pass on her legacy to bless the world... through the next generation of hers.”

PART II
THE JOURNEY OF OUR LIFE

Perjalanan kami di pesawat kami lalui dengan… what can I say… berisik?
5 tahun saya bekerja di satu perusahaan dengan load traveling yang sangat tinggi. Baru kali ini saya takut terbang.
Hal pertama yang membuat saya merinding adalah… saya masuk dari ‘pantat’ pesawat… woooahhhh… ini baru pertama kalinya… (mungkin norak ya buat yang sudah pernah), belum lagi suara pesawat yang sangat keras… membuat saya dan Vonny serta riko (suami saya) yang duduk bersebelahan… harus berteriak bila ingin bicara satu sama lain. Di saat akan take off saya melihat Vonny melipat tangannya dan ada dalam sikap doa… hehehe… saya tersenyum saat itu.

Saya berpikir… kalau terjadi ‘apa-apa’ dengan pesawat ini … lucu juga! Tapi ngga lah… Kita ingin memulai satu karya yang baik… masakan Tuhan tidak melindungi… kalaupun sampai itu terjadi… rasanya itu adalah tanda cinta Tuhan kepada kita…’memanggil’ kita lebih cepat supaya tidak lebih banyak lagi dosa yang kita lakukan dan kita meninggal dengan keadaan ingin berbuat baik hehehe… (kenapa jadi ngelantur gini ceritanya hehehe…)
Anywaaayyyyy…nama pesawat itu WING’S AIR… mungkin benar suara itu jadi begitu berisik karena pakai bahan bakar sabun (becandaan mike/riko tuhhh…) atau… pesawat itu berusaha mengepak-ngepakkan sayapnya hehhe…

Kami landing dengan sukses dan sampai di Jogja. Kami menyewa 2 mobil kijang untuk transpotasi kami.
Riko dan saya juga dijemput oleh seorang sahabat lama... Ignatius Sunandar. Kami berkenalan kira-kira 8 tahun yang lalu dengan cerita yang begitu unik.
Dan yang tidak pernah saya sangka-sangka adalah... kembali... tulisan saya tahun lalu mempertemukan kami dalam karya pelayanan bersama di Perbukitan Manoreh. Ia adalah salah seorang putra dari perbukitan itu. Ayahnya adalah kepala stasi desa Balong yang akan kami kunjungi juga.
Tulisan saya tahun lalu, membuat ia begitu excited. Then here we are... together in one mission. See how amazing our God is?

Satu lagi hal yang tidak pernah saya bayangkan terjadi.

Setelah memasukkan barang-barang ke mobil, kami berangkat untuk cari makan dulu. Akhirnya kami mendapati restoran padang di mana karena ke khawatiran teman-teman soal makanan... kita memborong 10 potong rendang dengan bumbu yang meluap seperti lumpur Lapindo

Kami langsung menyusuri kegelapan, masuk ke pedesaan... Jalanan sudah sangat gelap krn tidak adanya lampu penerangan jalan.

Dan akhirnya kami sampai di tempat tujuan... Kami semua disambut dengan ramahnya oleh Pak Darto dan Bu Darto, lalu pemilik rumah yang kami tinggali bersama Pak dan Ibu Timan. P’Mul, M’Nita, dr.Welly yang sudah datang sejak siang nya pun menyambut kami (biarpun dengan muka ngantuk...).
Saya memperhatikan wajah teman-teman secara diam-diam... ada wajah lelah yang terlihat... tapi saya tahu mereka menantikan setiap moment yang akan mereka lalui...
Mungkin bertanya-tanya... Quo Vadis (hehehe... extreem ya?) melalui semua yang serba blur dan pasti tak disangka-sangka.

Setelah acara ’sungkeman’ selesai... seluruh pasukan langsung menyerbu masuk ke rumah barak tempat pos tidur kita.

Semuanya tampak cukup lega dengan adanya kasur setebal 5 cm yang sudah kempes pes pes pes... serta sarung bantal dan seprei kusam yang melapisinya.
Anak-anak kota ini sudah membawa sleeping bag sebagai solusi semuanya... hehehe...
Tour WC dimulai... dari WC di rumah P’Timan sampai WC yang agak jauh.. di bawah dekat Goa Maria.

Dan kembali... saya melihat tarikan nafas lega dari beberapa teman... yang mendapati... WC nya ternyata tidak seperti yang mereka bayangkan... Bahkan jauuuuuuuuuhhh dari yang mereka sudah persiapkan untuk mereka dapati.
Dari Jakarta... saat semua sudah mulai terus bertanya-tanya, saya hanya menentramkan hati teman-teman dengan berkata,“ Kalau saya saja (yg sudah saya nilai cukup manja dan cerewet) tahan, teman-teman pasti tahan!“

Saya merenungkan sesuatu... kadang dalam kehidupan ini, seperti pergi ke Jogja dengan segala ketidak-jelasan yang akan bersama dalam kehidupan kita, hidup ini juga sama tidak jelasnya.
Seperti kita khawatir akan tempat tidur, WC, makanan, minuman... kita juga khawatir akan kehidupan kita sehari-hari.
Apa yang akan kita pakai hati ini, dapatkan kita mempertahankan life style kita hari ini, bagian dunia mana yang belum saya kunjungi.
Semua ketakutan itu membelenggu kita sehingga kita tidak dapat melangkah.
Saya dan teman-teman cuma segelintir yang kebetulan mempunyai waktu yang cocok untuk mau melangkah melawan ketakutan itu.
Dan ternyata... banyak dari ketakutan-ketakutan itu yang tidak terbukti.

Saat saya memikirkan kehidupan orang-orang di perbukitan itu... kalau kita saja yang berkecukupan begitu takut akan hari esok... saya bertanya-tanya... apalagi mereka ya?
Bagaimana perasaan mereka? Bagaimana mereka menjalani hari-hari mereka? Bagaimana mereka menghadapi kenyataan kelaparan, kesakitan, tidak mampu sekolah? Dan apa yang mereka bayangkan dalam kehidupan mereka di depan sana...

Gosshhhh... membayangkan saya ada dalam posisi mereka saja, saya sudah tak lagi mampu berkata-kata.
Dan rasanya badan terlalu penat untuk mengajak sang otak terus berpikir... tetapi udara terlalu panas untuk tidur...
Terus terbayang berbagai macam ketakutan yang pasti mereka hadapi setiap hari...
Betapa aku harus belajar banyak... kadang kesederhanaan adalah jawabannya...

Zzzzzzzzzzzzz.....

To be continued...

My Privilege... Seeing God in you! (1) -Beautiful Moments with People from the Hills-

My Privilege... Seeing God in you!

-Beautiful Moments with People from the Hills-

PREFACE

Tepat setahun yang lalu… saya pergi ke satu daerah yang mengubah banyak pandangan saya mengenai kehidupan.
Tahun lalu saya menuliskan pengalaman saya di satu tulisan yang berjudul “Printing a Galley of Blessing from the Poor” , dan tahun ini saya diberkati Tuhan karena saya dapat terus mendulang berkat itu.
Tahun ini saya pergi kembali bersama dengan P’Muljono, M’Nita, P’Herman, dan kakak kelas saya dr.Welly. Tetapi kali ini saya juga ditemani oleh suami tercinta, dan 12 orang sahabat dari kesehari-harian hidup saya di Jakarta. Keberadaan mereka membuat saya merasa… di mana-mana Tuhan memberkati saya dengan limpahnya. Kehadiran mereka (khususnya suami saya) membuat saya merasa setiap nafas saya, cinta Tuhan mengalir ingin memberkati saya.

Dengan rasa syukur itu… saya ingin kembali menulis lagi… memaparkan hal-hal yang tidak terlihat, terbayangkan oleh kehidupan kita di Jakarta yang serba gemerlap, di mana Tuhan rasanya sulit ditemukan karena kesibukan, kemudahan, segala yang instant, dan semua kecanggihan yang berlomba ingin melampaui Tuhan. Menara-menara Babel di bangun di setiap jengkal tanah dan di setiap sisi hati… membuat Tuhan menjadi begitu jauh.

Tetapi di Perbukitan Manoreh… tempat di mana tidak terlihat satupun bangunan tinggi, jarang terdengar dering telpon (apalagi bunyi HP), dan suara TV, di setiap pandangan yang saya lepas… hanya hijau menghampar dan di sana-sini selalu disuntingkan senyum dari orang-orang yang saya temui… tanpa pandangan takut dan curiga, tanpa prasangka dan … di sanalah saya merasakan kehadiran Tuhan… begitu dekat, begitu hangat, dan begitu nyata menyapa hati saya…

Dan inilah kisahnya…

_________________________________________________________

Best Wishes,

Lia Brasali Ariefano

Every woman has her own legacy. Nothing she could do to change it…

But she can decide how to live her legacy, and then pass on her legacy to bless the world... through the next generation of hers.”

PART I

PASSION is CONTAGIOUS

Semuanya ini dimulai sejak setelah saya mensharingkan kepergian saya ke Jogja tahun lalu.

Dengan kemampuan menulis saya yang sangat terbatas… saya berusaha menuliskan apa yang saya lihat, dan saya rasakan dalam bentuk tulisan.

Tanpa saya sadar… ternyata tulisan itu menyapa banyak hati. yang kemudian berpesan dari jauh-jauh hari… kalau ada rencana ke Jogja lagi, mereka minta diajak.

Ini kali ke dua buat saya, tetapi ini kali pertama buat 13 teman lain yang akhirnya memutuskan ikut bersama dengan saya ke Perbukitan Manoreh.

Dari pertemuan pertama di tempat P’Muljono… sudah terlihat muka-muka bingung, pertanyaan-pertanyaan konyol, bahkan cerita-cerita yang membuat teman-teman (mungkin) mempertimbangkan kembali apakah mereka jadi ikut atau tidak ke Jogja…(dari WC, makanan, sampai cerita tuyul hehehe…)

Tetapi saya percaya satu hal… keinginan yang kuat dalam hati itu menular (Passion is Contagious), mereka merasa tersentuh oleh cerita yang saya tulis setahun lalu… dan itu membuat mereka merasa dapat melampaui banyak hal… bahkan hal-hal yang mereka pikir tidak bisa mereka tinggalkan.

Ketakutan akan tempat MCK, makanan, bahkan kesulitan mereka untuk buang air besar, mampu mereka ‘kalah’kan karena di hati mereka tersimpan satu keinginan untuk bertemu dengan Allah sendiri yang ada lewat pribadi-pribadi sederhana yang akan mereka temui di sana.

Persiapan berlangsung dengan tanpa kesulitan apapun. Dana yang dibutuhkan sekitar 20juta tiba-tiba mengalir dengan derasnya.
Tanpa effort yang sangat berarti !!!
Allah kita Allah yang adil... Ia Allah yang berpihak pada kaum lemah dan bekekurangan.

Ia membela lewat banyak hal... salah satunya lewat hati para penderma yang menyisihkan sedikit dari jerih payahnya untuk memberkati sesamanya yang berkekurangan.

Dan datanglah harinya… kami berangkat di tanggal 29 Juni 2007.
Akhirnya kami bisa naik pesawat karena keteguhan hati Vera (Handoko) yang terus kekeuh mencari pesawat murah supaya kita semua bisa naik pesawat (padahal saya yang mudah menyerah ini sudah memutuskan naik KA saja biar murah
).

Vera sampe rela ngantri-ngantri di Lion Air nungguin rate pesawat yang paling murah dibuka... She’s really my angel deh... (thanks sist!)

Ketakutan berikutnya datang... karena setelah dijumlah-jumlah... kami harus hand carry kira-kira 150kg obat (setelah menjelang keberangkatan P’Mul tiba-tiba nge drop 5 karton yang isinya obat botolan... woooahhh haleluya!...) dan tidak berhasil mendapatkan surat keterangan dengan kop surat dari instansi yang resmi. Alhasil... hanya dengan surat keterangan dari dr.Lia yang cuma praktek pribadi doang, obat-obatan itu di bawa... dan jujurnya... saya benar-benar resah sore itu. Membayangkan obat-obatan yang jumlahnya hampir 20 kardus itu harus dibuka satu persatu untuk di periksa... mau kelar jam berapa?
Hampir semua teman-teman yang saya kenal saya sms untuk minta doa... supaya tidak terjadi macam-macam.
Puji Tuhan... semua dus-dus itu berhasil lolos... hanya tertahan di satu dus yang isinya tabung Oksigen dan rasanya hal itu cukup wajar untuk diperiksa.

Setelah menunggu pesawat yang delay hampir 40 menit... akhirnya kamipun berangkat.
Saya melihat muka teman-teman saya selama menunggu dan ada di pesawat.
Saya tersenyum dalam hati melihat mereka... saya bertanya... apa yang mereka rasakan dalam hati mereka saat itu?
Saya ingat perjalanan saya setahun yang lalu... saat itu saya merasakan rasa was-was yang sangat... takut sekali tidak bisa beradaptasi dengan keadaan.
I wonder... what were they thinking and feeling at that time?

Saya mengagumi hati-hati yang mau berbagi, saya mengagumi belas kasih yang mereka mau berikan, dan saya bersyukur… saya ada di tengah lingkungan yang seperti ini.
Saya belajar satu hal… kesediaan saya untuk berbagi cerita satu tahun yang lalu membangkitkan keingin-tahuan bahkan membangkitkan gairah dala hati mereka. Gairah yang mungkin tak terdefinisikan oleh mereka. Keinginan yang kuat yang mereka bawa dalam hati.
Saya bertanya dalam diri saya… apakah selama ini saya sudah cukup membagikan diri saya kepada sesama?
Ada
berapa banyak berkat yang saya simpan sendiri… padahal kalau saja saya mau berbagi dengan orang lain, bukan hanya materi.. tapi hal yang simple sekalipun seperti senyum, sharing, bahkan sapaan hai… mungkin saja itu dapat membangkitkan semangat dan gairah dalam diri mereka yang mungkin dapat memberkati orang-orang di luar sana… lebih dari yang saya bayangkan.

Allah Tuhan… selalu membawa anak-anakNya ke sesuatu yang luar biasa… yang tidak pernah saya bayangkan.

Cukup pekakah saya menanggapinya…?

To be continued…

Monday, May 28, 2007

Again... I was sooo blessed!


Dear all,

Kemarin hari Minggu, gw berkesempatan berkunjung kembali ke Pondok Damai.
Panti asuhan yang CatWoGers kunjungi kira2 1 bulan yang lalu.
Seperti yang lalu, gw berangkat ke sana dengan perasaan malassss banget.
Tapi ud terlanjur janji sama Elyse mau sama2 ngasi foto2 kunjungan kita ke sana bulan lalu. Sebenernya bukan itu saja, tapi gw juga ud janji ama anak2 bakal datang lagi.
Itu yang membuat gw berasa, gw harus berangkat.

Sesampainya di sana, gw, hubby, sianita dan yuli berkesempatan ketemu sana Sr.Wilma. Suster yang kmrn pas kita datang, ngga sempat ketemu sama kita. Padahal kayaknya dia yang in charge kesehari-harian di sana.
Kita ngobrol dengan suster yang sangat ramah dan komunikatif ini. Dia banyak cerita soal pergumulan sehari-hari mendidik anak-anak ini. Ada beberapa fakta yang membuat hati gw bergetar dan muka gw melongo dengerin dia cerita:
1. Kenyataan bahwa orang tua anak2 di panti itu adalah juga anak2 panti. Demikian juga beberapa oma-opa mereka. Ada beberapa kasus yang membuat tinggal di panti menjadi turun-temurun.
2. Hampir semua dari mereka, mempunyai latar belakang keluarga yang sangat berantakan. Bahkan ada 2 kakak adik yang tinggal bersama di panti itu... sebetulnya mereka 4 bersaudara, dan ke empat2nya berasal dari 4 laki2 yang berbeda. Jadi semua beda bapak!!! Minta ampuuunnn... (siapa bilang hari gini, cewek susah dapat jodoh hehehe...)
3. Sekolah Katolik yang menjadi tempat beberapa anak panti sekolah, hanya mau menurunkan 100 ribu dari harga semula yang tinggi! (huuuhhhh... no comment! tapi kok hati gw geregetan banget!)

Di tengah2 perbincangan, muncullah anak2 yang kayaknya baru selesai mandi sore. Muncullah adik yang beberapa waktu lalu sudah kita ketemui. Yang sangat menajubkan adalah... mereka memanggil Kak Liaaaa... dan itu Kak Riko!!! (nama my hubby!)
Gosshhhh... dari anak2 yang dibilang kurang perhatian, mereka memberikan rasa sejuk di hari gw. Setiap minggu pasti ada kunjungan dari pelbagai organisasi/kegiatan dengan begitu banyak yang mereka kenal... tapi mereka menyapa gw dengan nama gw... mereka inget gw!!! (haaaahhhh... I felt soooooo special!)
Kembali... sekali lagi... gw datang ke situ dengan niat mau memperhatikan mereka. Tapi ternyata gw mendapati kenyataan, di sana gw mereka so so so so special dan diperhatikan...

Di antara mereka ada seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Namanya Mei Mei. Dia dititipkan di panti ini sejak usia 1 bulan. Dan saat itu ia ada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Kakinya bengkok, tidak mampu berjalan, dengan keadaan tubuh yang lemah krn keadaan yang tidak sehat sejak dalam kandungan.
Kedua orang tuanya entah ke mana, meninggalkan ia bersama suster di pondok damai sejak usia 1 bulan.
Mei merengek minta susu kepada suster yang sedang asyik ngobrol bersama kami, suster menyuruh dia mengambil susunya di dapur. Tetapi Mei menolak, ia menuntut perhatian dari suster yang sedang asyik ngobrol. Akhirnya ia memukuli suster dengan tangan kecilnya sambil merajuk.
Saat melihat itu... tanpa terasa air mata gw mengalir.
Melihat suster yang penuh kasih memeluk anak ini, anak yang bukan anaknya, anak yang merajuk karena kemauannya tidak dituruti, padahal suster hanya menhajarkan hal yang baik untuknya.
Rasanya gw menembus masuk ke dalam hati Sr.Wilma, betapa hatinya dipenuhi kasih terhadap Mei. Gw jadi mempertanyakan diri gw sendiri... mampukan aku seperti itu.
Kembali... gw datang ke sana dengan maksud ingin memberikan kasih. Tetapi gw mendapati diri gw belajar dari kelembutan hati yang penuh cinta dari seorang suster.
(hiiksss hiikss.. kl kebayang masih pengen nangis...)

Tak lama kemudian, makin banyak anak2 masuk ke ruangan dan mulai bergelayutan di badan, pangkuan dan tangan riko. Entah kenapa dari dulu, suami gw itu selalu mampu menarik perhatiaan anak2. Pdhal riko tidak melakukan apapun, hanya menyapa mereka.
Mungkin ini yang dinamakan 2 menjadi 1 dalam pernikahan. Biarpun mereka bergelayutan ke riko, gw ngerasa anak2 itu dekat sama gw. Dan kembali gw rasanya ingin meneteskan air mata melihat senangnya riko dan anak2 itu bermain. Mei bahkan berani menggigit riko... mungkin sangking gemasnya.

Riko menanyakan ke Suster... berapa biaya yang dibutuhkan untuk membiayai pendidikan ke 69 anak itu.
Suster bilang sekitar 20juta. Dan saat riko menanyakan bagaimana cari dananya? Suster menjawab... selalu ada kemurahan Tuhan yang mengalir setiap bulannya.
Kembali.... gw belajar bahwa Tangan Tuhan selalu ada bersama anak-anakNya yang membutuhkan. TanganNya selalu mencukupi, bahkan di keadaan yang rasanya tidak mungkin sekalipun.
Suster Wilma... Suster Wilma... kalau saja... gw bisa punya sedikiitttt saja dari hatimu. Mungkin hari2 gw bakal bisa memberkati lebih banyak lagi orang-orang di sekitar gw.

Dan kembali...
gw datang ke tempat itu dengan setengah hati, tetapi pulang dengan hati yang penuh... penuh dengan cinta dan perhatian dari mereka. Di saat sebelum pulang... gw rasanya ingin memeluk mereka satu persatu, berterima kasih atas cinta yang mereka berikan kepada gw dan suami gw.

gw datang dengan kepercayaan diri bahwa gw akan memberkati mereka... tetapi gw pulang dengan kepercayaan bahwa selalu ada kasih Allah yang luar biasa bagi orang-orang yang tersisih, miskin, dan menderita. Dan kesombongan gw hanya bisa membuat gw tersenyum kecut, menyadari bahwa... cinta Tuhanlah yang membuat mereka berbahagia. Bukan karena seorang Lia.

Again.. I was so so so blessed!
gw pulang dengan hati yang penuh.

Monday, February 26, 2007

Printing a Galley of Blessing from The Poor

Mendulang Berkat lewat Kepapaan

Dua kosa kata yang sangat berlawanan satu sama lain. Berkat dan ‘Papa’ (baca: kemiskinan/ ketidak-punyaan).

Tetapi saya mengalami 2 kata yang berlawanan ini sebagai satu kesatuan yang memberkati hari-hari saya secara luar biasa.

Tidak heran, kalau gereja Katolik kita tercinta, selalu berpihak pada kaum miskin dan papa, serta ada dalam spiritualitas yang mau hidup sederhana.

Rasanya memang lebih mudah ‘menemukan Tuhan’ di tengah keadaan seperti itu, dari pada di tengah kehidupan metropolitan.

Di mana suara Tuhan tertutup oleh bunyi klakson mobil, suara TV di rumah, bahkan suara manusia yang lebih keras dari pada suara penciptanya.

Atau sosok Tuhan tertutup oleh ambisi, kecemburuan, ketamakan, dan hedonisme…

Tgl.1-3 Juli kemarin, saya diberkati Tuhan dengan kesempatan pergi bersama satu rombongan dari Paroki St.Theresia yang diprakarsai oleh P’Muljono.

Seorang Bapak berusia 70 tahun yang sederhana, tetapi setelah saya mengikuti perjalanannya, saya melihat kekuatan hatinya untuk berkarya di kebun anggur Tuhan dan Tuhan berkarya luar biasa melalui hidupnya.

Kami pergi ke Sendangsono. Tempat ziarah umat Katolik yang pasti tidak asing lagi di telinga kita semua. Tetapi ternyata, di balik bukit-bukit, dan gunung yang ad adi sekitar Sendangsomo. tersimpan kemiskinan yang membuat mereka sulit untuk hidup,

Saat ini saya mengajak anda semua membayangkan, bagaimana hidup yang paling sederhana yang bisa kita lakukan saat ini…?

Percayalah… mereka jauh jauh jauh jauh jauh ada dibawah dari yang kita bayangkan saat ini!!! (Saya yakin, anda semua pasti tidak membayangkan harus berjalan selama 2 jam melintasi gunung-gunung hanya untuk mengambil uang Rp.15.000,- atau harus mengangkat kayu dipunggung untuk kehidupan sehari-hari dan berjalan melintasi gunung-gunung khan?)

Saya sendiri sudah pernah masuk ke tempat-tempat seperti ini. Tapi tidak lebih dari hitungan jari-jari di 1 tangan saya. Mungkin kesempatan ini menggenapi keseluruhan hitungan jari pada 1 tangan tadi. Sehingga tidak heran, saat saya pergi rasanya semua barang mau saya bawa. Ketakutan saya pada kebersihan toilet, kekhawatiran saya terhadap bagaimana saya tidur, bahkan kepusingan saya… apakan ada listrik untuk men-charge hp (bahkan saya sempat terpikir lap top!!) saya.

Dari Autan semprot, pembersih toilet seat, tissue kering sd. anti septic, bahkan aqua sepertinya ingin saya bawa semua untuk menentramkan hati saya.

Sampai akhirnya saat saya dan suami membongkar kembali tas yang harus saya bawa (krn tidak mungkin membawa 2 tas untuk perjalanan sulit yang hanya 2 hari!), saya memutuskan (dengan sangat berat hati) untuk tidak membawa sebagian barang-barang tadi.

Saat saya sempat merefleksikan situasi ini… saya berpikir… betapa semua kemudahan Jakarta membuat saya menjadi orang yang penuh dengan ketakutan dan kekhawatiran. Sampai pada tahap… uang saja tidak cukup membuat hidup kita tenteram. Memang uang… tidak bisa membeli segalanya.

Saat perjalanan ke Bandara, tidak habis-habisnya hati ini berkata, ”Aduh malasnya… aduh malasnya…” berkali-kali…

Terus mempertanyakan,”kenapa ya kemarin gue ambil tawaran ini? Kenapa ya… kenapa ya…?” dstnya…

Membayangkan bagaimana saya harus menghabiskan week end saya dengan bersusah-payah, sedangkan di sini, saya bisa ada bersama suami dan teman-teman… hang out di mal… dan Ngopi! J

Kira-kira 5 hari sebelum keberangkatan, saya hampir membatalkan karena kekhawatiran2 tadi terus menghinggapi saya.

Luar biasa… bagaimana kemudahan dan kenikmatan dunia menjerat hati saya. Sampai pada akhirnya mungkin kita tidak sadar, hati yang harusnya berbelas-kasih dibuat buta oleh semua yang kita rasa benar dan sudah seharusnya kita dapatkan.

Kekhawatiran saya, hampir menghalangi saya menerima berkat, yang tidak saya sangka-sangka…!!!

Tiba waktunya kamipun berangkat. 2 dokter (saya dan dr.Welly Kwangtana), 3 paramedis, 1 relawan (Feni), P’Mul, M’Nita, dan P’Herman.

Senang sekali rasanya bertemu dengan dr.Welly krn dia adalah kakak kelas saya semasa kuliah. Dan jujurnya, dari dia saya banyak belajar mengenai kecintaan melayani orang miskin dari sejak saya masih kuliah dan bersama dengannya berkarya di kampung nelayan di daerah Cilincing.

Rasa kagum saya tidak putus kepada dia, melihat ia yang pertama kali membentuk pelayanan kesehatan di Cilincing bersama dengan suster-suster Puteri Kasih di pertengahan tahun 1990an, dan hari ini pelayanan kesehatan itu masih ada di sana, berkarya dan memberkati para nelayan miskin di daerah Cilincing, bahkan dari ceritanya saya mendengar ia telah membuka 2 pos baru di daerah Warakas.

Saya mengagumi visi yang Tuhan taruh dalam hatinya, yang membuat dr.Welly masih ada di sana dan berkarya di sana. Itulah kekuatan visi…

Sedangkan saya… sudah menghilang entah kemana…

Visi itu juga yang saya lihat di diri P’Muljono. Menurut ceritanya… ia memulai karya pelayanan ini sejak tahun 1994-an. Ketika ia datang ke Sendangsono, dan tergerak melihat kemiskinan di sana. Terutama hatinya tergerak melihat anak-anak yang putus sekolah karena tidak mampu membayar uang sekolah. Akhirnya ia mulai dengan 2-3 anak yang ia biayai sendiri. Tetapi hatinya merasa resah… sesampainya di Jakarta, ia mulai mengetuk hati para penderma. Dari penderma yang mudah, sampai penderma yang membuat ia merasa harus ‘menebalkan’ mukanya untuk menutupi harga diri/ malunya untuk meminta bantuan. Sedikit demi sedikit penderma terkumpul dari tahun ke tahun. Sampai hari ini, kita-kira 12 tahun ia menjalani ini… sudah ada lebih dari 600 anak, yang merasakan bantuan beasiswa sehingga dapat terus bersekolah.

Sesampainya di Jogja, setelah melalui landing pesawat yang seperti ada di dalam bus kota, dengan menaiki mobil sewaan kami pergi ke temmpat lokasi di Sendangsono yang jaraknya kira-kira 11/2 jam dari kota Jogja. Melalui jalanan yang lumayan berputar-putar naik dan turun, saya mulai khawatir kalau saya merepotkan teman-teman saya denga mabok dan muntah. Tetapi Puji Tuhan saya baik-baik saja, bahkan menikmati perjalanan itu biarpun gelap gulita dan terkantuk-kantuk di bangku paling belakang panther (krn di mobil itu saya salah satu yang paling muda, jadi yaaa… saya harus memberikan tempat duduk yang lebih enak kepada yang lebih tua.. J)

Kami disambut dengan ramahnya oleh pemilik rumah dan penduduk sekitar Goa Sendansono (kami tinggal persis di belakang area doa Sendangsono)… Malam itu kami tutup dengan ibadat bersama.

Ada 20 frater yang sedang belajar di seminari. Dari seminari menengah, tinggi, dan yang paling senior adalah frater yang akan melaksanakan tahun pastoral parokinya (saya tidak tahu, itu tahun keberapa). Yang mencengangkan adalah… semua frater tersebut berasal dari daerah Sendangsono dan sekitarnya… dan SEMUANYA menikmati berkat beasiswa yang diberikan lewat tangan P’Mul.

Saya membayangkan… apa rasanya menjadi seseorang yang satu hari nanti (mudah-mudahan) melihat 20 pastor yang bisa berkarya lewat kerja kerasnya… pasti rasa itu tidak terbayarkan oleh apapun juga. 20 frater yang sedang berlibur itu datang dari penjuru kota Jawa untuk membantu membagikan beasiswa bagi adik-adik mereka, seperti dahulu mereka juga mengalaminya.


Akhirnya hari pertama saya hampir berlalu. Perlahan kekhawatiran mulai menyusup pergi.
Melihat semua kenyataan yang ada, tidak seperti yang saya takutkan. Saya mendapat kamar yang isinya hanya berdua dengan Feni dan dialasi kasur (super duper) tipis, tetapi cukup nyaman. Dialasi sleeping bag yang saya pinjam dari Rika, Puji Tuhan saya dapat tidur (biarpun kami baru bisa tidur jam 1 pagi setelah breafing dan parahnya itu jam ayam jago di sana mulai berkokok! Minta ampun berisiknya, dari yang bass sampe yang suaranya seperti ayam tercekik!) biarpun dengan diiringin musik alam yang membuat saya terus menerus terbangun. Lalu toilet yang biarpun membuat semprotan toilet seat saya jadi tidak berguna (krn toilet ‘super seat’ alias jongkok) tetapi semuanya dapat dikatakan cukup bersih dan layak untuk dibuat mandi dsbnya.

Tapi dalam doa malam saya bersyukur, hari ini saya bertemu dengan orang-orang baru dan kawan lama yang hebat. Sebagai seorang istri yang mempunyai suami yang juga seorang pembawa visi, saya mengetahui bagaimana perjuangan hidup mereka, dan bagaimana mereka melangkah memperjuangkan visi yang Tuhan taruh dalam hati mereka. Mereka membuat hidup mereka berarti. Bukan dengan kegemerlapan dunia, tetapi dengan membuat hidup orang lain juga berarti.

Dan sebelum saya terlelap, lintasan terakhir dalam benak saya adalah… “Apa yang ku ingini dalam hidup ini? Untuk membuat hidupku berarti? Apa aku sudah menjalaninya?”

Saya bangun pagi dengan bersyukur, semalam bisa beristirahat secukupnya (krn baru malam pertama, masih adaptasi dan SANGAT terganggu oleh suara ayam jago yang kemarin saya ceritakan!) dan pagi ini bisa memulai hari yang baru.

Kami bersama sarapan pagi seadanya (dan kembali kekahwatiran saya tidak beralasan krn saya cukup suka makananya hehee), dan berangkat ke satu stasi di salah satu bukit di daerah itu yang namanya… something like.. Nyumanis… (lupa euy…!).

Perjalanan ke sana memakan waktu 1 ½ jam, bukan karena jaraknya yang jauh, tapi krn medannya yang sulit. Pegangan did alam mobilpun rasanya tidak cukup, sampai saya harus duduk dengan tegak krn jalannya yang sangat berbatu.

Sesampainya di stasi itu, saya melihat sudah banyak orang yang menunggu. Kami disambut dengan begitu ramahnya oleh penduduk yang menunggu di situ. Dasar bukan artis, saya menjadi merasa risi mendapat sambutan yang seperti itu J

Kami menyiapkan tempat untuk bekerja… dan langsung memulai pemeriksaan ke pasien satu per satu setelah ibadat singkat bersama.

Pasien-pasien yang saya periksan hampir 75% adalah orang-orang tua. Biarpun ada yang usianya baru 50an tahun, tetapi wajah mereka mencerminkan kekerasan hidup. Tapi satu hal yang membuat saya jatuh hati ke mereka… mereka tetap tersenyum. Kalau pun ada yang malu-malu dan tertunduk, saya sulit menemukan kesedihan dan kepahitan di mata dan kata-kata mereka.

Sebagian bersar dari mereka mengalami 3 keluhan terbesar yang rata-rata sama.

  1. Pegal-pegal di seluruh badan atau terutama pinggang dan kaki.
  2. Sesak nafas, jantung berdebar-debar.
  3. Gatal-gatal pada tangan dan kaki.

Hhhhmmm… bagaimana tidak…? Kl mereka harus memanggul buah/kayu bakar/hasil tanaman mereka, berjalan naik turun gunung yang medannya berbatu-batu seperti tadi. Untuk sampai ke tempat pengobatanpun, ada yang berjalan 2 jam… dan harus kembali ke rumah mereka 2 jam perjalanan… BERJALAN KAKI!

Tidak heran kl semuanya merasakan keluhan yang sama.

Setelah dari Nyumanis, kami ke 1 SD untuk membagikan beasiswa plus pengobatan juga… dan malamnya saya dibonceng naik motor naik ke gunung-gunung di sekitar penginapan kami, untuk mengunjungi lansia yang tidak dapat berjalan ke tempat pengobatan krn sudah stroke dsbnya.

Keesokan harinya, kami pergi ke satu dusun bernama Samigaluh… disitu juga telah menunggu begitu banyak penduduk yang datang untuk pengobatan dan pengambilan beasiswa. Kami mulai dengan agak cepat pagi ini, krn siang nanti kami harus kembali ke Jogja untuk penerbangan pulang ke Jakarta. Karena ramainya antrian, ada mereka mendaftar dengan berdesak-desakan. Sehingga dr.Welly harus berteriak (dengan bahasa Jawanya yang fasih dan dengan nada yang sabar): “Mbah, sabar nggeh… jangan dorong-dorongan nanti jatuh, semua pasti diperiksa dan dapat obat…” Dan yang tidak disangka-sangka… ada seorang nenek yang membalas teriakan itu dengan jawaban (dengan bahasa Jawa pula tentunya tetapi dengan nada yang tak kalah halus dan penuh kepolosan): “Setiap hari kok disuruh sabarrrrr…”

Mendengar itu kami semua tertawa, tetapi di hati saya yang terdalam rasanya ada sesuatu yang menggores. Rasa pilu yang sudah menjadi kesehari-harian mereka. Mereka harus sabar menghadapi semuanya. Sabar antri pengobatan, sabar antri uang jatah orang miskin, sabar antri jatah beras, sabar antri jatah minyak, sabar, sabar, dan sabar… rasanya adalah sahabat mereka yang terbaik di hari-hari mereka.

Sedangkan saya… juga berkata sabar terhadap diri saya… sabar karena tidak bisa punya segala yang saya mau (mobil, rumah, HP baru, PDA, dsbnya), sabar karena rumah yang saya tinggali kadang suka bocor atapnya. Semuanya membuat saya bertanya… apakah saya layak untuk sabar? Sedangkan segala kemudahan ada terbentang di depan saya?

Saat memeriksa satu Mbah, sambil menasehati agar dia jangan terlalu sedih (dan tentu saja terus sabaarrrrrrr!), Mbah itu terus memandangi wajah saya dan menatap saya dalam-dalam sambil terseyum lebar dan penuh kasih. Kemudian ia memegangi tangan saya, dan memegang wajah saya dengan berkata, ”Dokter kok putih sekali…” Dia terus mengatakan itu sambil tersenyum lebar.

Saya sekuat tenaga menahan air mata keluar dari mata saya… melihat seorang nenek lemah yang sakit, menderitakan sakitnya, dan hanya sekejab bisa tertawa dengan bahagia melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum. Ia terus memegang wajah sayang dan kemudian waktu selesai dengan resep, ia memeluk saya dan menciumi muka saya. Saya hampir tidak kuasa menahan hati saya yang rasanya sudah jatuh menggelinding di lantai karena pelukan nenek itu yang penuh dengan kasih. Bukan lewat uang yang berkelimpahan saya merasa diberkati, tapi oleh pelukan seorang nenek yang sederhana dan polos. Yang dengan hatinya menyatakan terima kasihnya.

Mendapati mereka yang memegang tangan saya dan tersenyum lebar waktu saya ajak bicara membuat hati saya bergetar. Mendengar kata-kata mereka yang tidak diwarnai oleh keluhan sangat menceritakan keluhan sakit mereka… membuat saya rasanya ingin masuk ke bawah kolong meja, malu melihat diri saya sendiri.

Hari itu saya belajar dan kembali bertanya kepada diri sendiri… dari mana mereka mendapat rahmat sebesar itu? Mungkin ini arti yang mama saya sering katakan kepada saya… “Biar miskin, tetapi kaya…” Rasanya… saya menemukannya di sini.

Haripun beranjak siang. Tanpa terasa pengobatan yang terakhir telah selesai kami lakukan.

Kami bersama dijamu oleh makanan yang sudah disediakan oleh tuan rumah yang kebetulan adalah ketua stasi desa Samigaluh.

Nasi, sayur papaya, tahu, dan belut goreng.

Hhhhmmm… jujurnya… kalau saya ada di rumah, saya memilih untuk tidak memakan itu semua, dan buat Indomie goreng

Tetapi ‘terpapar’ oleh realita hidup yang demikian keras selama 2 hari membuat saya malu untuk bertingkah laku manja, dan tidak memakan berkat yang sudah disiapkan dengan penuh kasih dan berkelimpahan itu.

Akhirnya saya menelan setiap kunyahan daun papaya yang pahit itu dengan tidak berani complain! Hidup mereka mungkin lebih pahit daripada pahitnya daun papaya, dan mereka tidak complain, bahkan masih bisa tersenyum. Masakan saya harus membuang berkat ini hanya karena alasan saya tidak suka, dan complain akan berkat ini?!?

Setelah selesai makan dan berpamitan dengan semuanya, kami naik ke mobil untuk kembali ke Jakarta melalui Jogja.

Dalam mobil… kami semua baru merasakan kelelahan, dan semua terdiam dalam istirahat/ tidurnya masing-masing.

Saya sendiri tidak mampu tidur, yang ada dalam benak saya, hanya rekaman setiap kejadian dan wajah-wajah pasien yang saya periksa selam 2 hari ini.

Wajah setiap anak yang tersenyum memegang amplop beasiswa di tangan mereka, wajah para embah2 yang tersenyum sewaktu saya periksa dan mendapatkan obat, ucapan terima kasih yang diucapkan dan setiap kali itu seperti siraman air sejuk di hati saya.

Pasti menyenangkan menjadi seorang P’Mul yang bersusah-payah dan bertebal muka mencari bantuan donatur dan melihat setiap senyum yang terlukis di setiap wajah anak-anak dan orang-orang sakit itu.

Sesampainya di airport, kami harus menunggu 2 jam untuk keberangkatan kami. Saya ngobrol-ngobrol dengan dr.Welly. Dan ia menceritakan satu kejadian yang kembali membuat hati saya bergetar.

Dr.Welly menceritakan, di prakteknya di Warakas, ada seorang nenek yang sudah bertahun-tahun menderita stroke dan tidak bisa keluar rumah. Sehingga akhirnya Welly yang mendatangi rumah nenek itu secara rutin dan memeriksanya.

Pada kunjungan yang ke-3, sang nenek bertanya kepada Welly: “Dokter namanya siapa?” dan Welly menjawab: “Akkhh… buat apa sih nenek tahu nama saya segala… yang penting khan tiap kali saya datang kemari mengunjungi nenek. Ini sudah yang ketiga kalinya… Nama saya tidak penting lah. Tapi memangnya, bua tapa nenek mau tahu nama saya?”

Dan nenek itu menjawab dengan polosnya: “Supaya saya bisa menyebut nama dokter di setiap doa malam saya.”

Saya memandang wajah Wellly saat itu, kejadian itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu… tapi saat menceritakannya, ia masih penuh semangat dan mata yang agak memerah. Saya tahu… ia menahan rasa harunya, seperti saya juga terharu mendengar ceritanya.

Welly berkata,”Waktu mendengar itu gw rasanya malu banget. Bayangkan… seorang nenek yang tidak berpendidikan dan sederhana, menyebut gw dalam tiap doa malamnya! Gw yang berpendidikan, dan seorang dokter! Kadang tidak tahu terima kasih dan lupa menyebutkan nama orang yang menolong gw. Sejak saat itu rasanya… gw yang berhutang budi ke nenek itu!”

HHhhhhhh… saya mengerti perasaan itu. Dan itu benar-benar membuat diri kita dikasihi. Cara yang tidak terbayangkan untuk dikasihi. Tetapi Tuhan selalu memberkati kita dengan berkat-berkat kecil disekitar kita. Kalau saja…. Yaahhhh… kalah saja… kita mau sebentar menyadarinya dan bersyukur. Pasti dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Di dalam pesawat… saya teringat adik-adik Mudika yang selama ini ada bersama saya. Betapa mereka hidup dalam berkelimpahan. Betapa mereka tidak perlu berjalan 2 jam hanya untuk mengambil beasiswa yang ‘hanya’ seharga 70rb. Betapa mereka tidak perlu berjalan kaki untuk ke sekolah selama 4 jam pulang pergi. Betapa mereka tidak harus makan nasi yang hanya dengan kecap untuk sehari-hari mereka. Betapa mereka tidak perlu pusing akan apapun juga krn semua sudah disediakan oleh orang tua mereka. Dan lewat semua itu… saya masih sering mendengar mereka complain akan semua yang mereka dapatkan.

Rasanya mereka sekali-kali harus datang ke tempat seperti ini, di mana setiap tetes keringat sangat berarti, dan setiap butir nasi dapat menyambung nafas mereka.

Dan akhirnya saya sampai di Jakarta, kota tempat saya lahir dan dibesarkan. Kota yang membentuk saya menjadi seperti hari ini. Betapa hati ini bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan kepada saya. Sesampainya di airport langsung dijemput suami tercinta, dan langsung makan bakmi kesukaan saya!

Setelah melalui 2 hari… yang tadinya saya pikir menjadi ‘api penyucian’ bagi saya, rasanya saya malu untuk berkata… itu semua adalah api penyucian.

Mungkin saya adalah api penyucian mereka, karena tingkah laku saya yang mungkin menyebalkan (biarpun kayaknya tidak)….

Betapa Tuhan mengasihiku… aku pergi dengan maksud untuk memberkati orang lain. Tetapi aku pulang dengan keadaan… AKU DIBERKATI!!!

Saya lebih merasa diberkati daripada memberkati mereka.

Bukan dengan hotel bintang lima, makanan mewah, kamar mandi dengan bath up, dan semua keindahan… tetapi dengan hidup-hidup sederhana yang berjuang menjalani kehidupannya di dunia ini dengan penuh syukur dan suka cita.

Saya mendulang emas lewat kehidupan mereka. Saya mendulang berkat lewat kesederhanaan mereka.

Kepapaan mereka adalah kekayaan bagi saya. Pernyataan kasih dan perjuangan hidup mereka seperti emas yang saya dapat 2 hari kemarin.

Doakan saya… supaya saya tidak melupakan semua peristiwa ini…!

The End

Quotes by Women who inspire my life.

"My philosophy is that not only are you responsible for your life, but doing the best at this moment puts you in the best place for the next moment." (by Oprah Winfrey)

"Hidup benar di hadapan Tuhan. Percayalah... apa yang kau buat pasti berhasil!"
(by my mom)


"Spread love everywhere you go: first of all in your own house. Give love to your children, to your wife or husband, to a next door neighbor. Let no one ever come to you without leaving better and happier. Be the living expression of God's kindness; kindness in your face, kindness in your eyes, kindness in your smile, kindness in your warm greeting."
(by Mother Teresa)