Showing posts with label motherhood. Show all posts
Showing posts with label motherhood. Show all posts

Tuesday, October 28, 2008

The Role Model of my Womanhood Journey

Bunda Maria selalu menempati tempat yang khusus di hati saya.

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu… waktu saya sedang jatuh cinta, dia menjadi ibu yang mendengarkan lagu cinta saya.

Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu… waktu saya sedang begitu marah kepada kakak sulung saya, Yesus… dia menjadi ibu tempat saya mengadu.

Dan sampai hari ini, ia tetap menjadi seorang ibu yang menyapa keseharian saya dengan nuansa yang berbeda. Yang memperlengkapi saya dengan teladan kewanitaannya.

Sejak awal, ia menjadi wanita yang sepenuhnya membiarkan dirinya dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Kata wanita (=Female), diambil dari bahasa latin Femina yang berasal dari akar kata Fellare yang artinya ‘menyedot’ (=to suck), dan ini mengarahkan kepada kegiatan menyusui yang hanya dapat dilakukan oleh wanita. (http://en.wikipedia.org/wiki/Woman)

Satu keadaan lagi yang hanya dipunyai wanita adalah melahirkan melalui rahimnya.

Saat seorang anak menyusu pada ibunya, yang ia lakukan adalah menyedot payudara ibunya. Dan saat itu air susu yang diproduksi oleh kelenjar yang ada dalam payudara ibunya tertarik keluar. Bukan hanya air susu, tetapi juga sel-sel yang ada dalam organ payudara tersebut mungkin tersedot keluar bersama dengan sang anak. Sehingga Ibu juga memberikan tubuhnya untuk member kehidupan kepada anak yang dilahirkannya.

Saat seorang anak ada dalam kandungan ibunya, selama 9 bulan ia ‘menyedot’ semua sari yang ada dalam tubuh ibunya. Banyak sekali para wanita sangat rentan terhadap kasus kekurangan darah, kekurangan kalsium, dan banyak vitamin… karena semua di supply untuk keperluan sebuh kehidupan yang akan hadir menikmati cinta Tuhan di dunia ini.

Kalau saja kita menyadari, betapa indahnya Allah menciptakan tubuh kita, dengan segala kesiapan dan kesempurnaan untuk beranak cucu dan bertambah banyak serta memenuhi isi bumi (bdk: Kejadian 1:28), serta kemudian menjalankan fungsi kewanitaan kita untuk memberikan segalanya, rasanya dunia akan menjadi a better place.

Bagi saya, tiada yang lebih indah untuk merayakan kewanitaan saya, selain merayakannya dengan memandang keberadaan Bunda Maria dalam kehidupan saya.

Seluruh hidupnya, ia merayakan kewanitaannya dengan terus memberi.

Memberi kesempatan bagi sang mesias hadir dalam rahimnya karena menyadari ia sendiri adalah the hand made of God… sehingga ia membiarkan kehendak Tuhan terjadi pada dirinya.

Menyusui dan merawat bayi Yesus dengan seluruh keberadaannya sebagai ibu.

Mencari kanak-kanak Yesus dengan sangat khawatir saat Dia menghilang di bait Allah dan menerima pertanyaan: “”Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (bdk: Lukas 2:49), dan ia menjadi seorang ibu yang menyimpan semua perkara dalam hatinya.

Mendampingi Putranya at the first performance of miracle di pernikahan di Kana.

Dan terlebih dari segalanya… Ia ibu yang tidak sedetikpun meninggalkan Putranya di jalan salib menuju Golgota. Menatap setiap cambuk yang juga mencambuk hatinya, menuggui Putranya di bawah kaki salibya dan memelukNya saat jenazahNya diturunkan dari atas kayu salib.

Ia ibu yang juga menemani para rasul saat Pentakosta. Menemani para rasul menantikan janji Yesus yang akan mengutus roh Kudus dan tidak akan pernah meninggalkan umatNya sendirian.

Ia ibu yang selalu ada sejak hari pertama Yesus masuk dalam rahimnya dan tetap ada saat Yesus sudah naik ke surga.

Ia ibu yang selalu dapat menjadi tempat saya memandang, saat saya sedang menjalani masa sulit kewanitaan saya.

Saat saya menulis artikel ini, saya sedang ada di Biara Ursulin Wisma Samadi. Sayup-sayup terdengar lagu Bunda di telinga saya dinyanyikan oleh anak-anak SD yang sedang retreat….

(yang beberapa diantara mereka sedang seliweran sekarang nanya WC ada di mana dan manggil2 gw TANTE…! Gggggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…! NGGA TERIMA!!!!!!!)

Tapi lagu itu menyentuh hati saya, dan saya merasa Bunda Maria sedang duduk di meja makan ini bersama saya, menemani saya menulis…

Bunda Maria mengajarkan banyak hal kepada saya. Menghargai setiap fungsi dari tubuh kewanitaan saya, dan terlebih dari segalanya…

She teaches me how to celebrate my womanhood, cherish every second of it… and grateful with all I have in life.

She always be my role model of my womanhood journey.

Love you Mother Mary…

“Oh Bunda ada dan tiada, diri mu kan selalu ada di dalam hatiku!”

-hari terakhir di Bulan Maria, 31Oktober 2008- dedicated to all moms I have… Mother Mary, my beloved mom and mom in law. 3 extra ordinary women, women of my life…. Thank you for sharing your womanhood and pass on the legacy. Love you all very-very much.

Thursday, July 24, 2008

Motherhood... Brain damage..? (a reflection)


Beberapa minggu yang lalu, gw kumpul2 sama teman2 SMP yang udah 20 tahun ngga ketemu (gooossshhh... sound so olddd... 20 years... 20 tahun yang lalu ud bisa pacaran... hehehe...), lucu juga sih... ketemu-ketemu lagi semuanya ud berwajah lebih hhhhmmm... 'bijaksana' di bandingkan 20 tahun yang lalu... ya iya laaahhh... (masa ya iya dong.. hihihihi... *garing*)

Beberapa di antara kami sudah punya anak2 yang sebentar lagi ABG. Dari percakapan di antara kami, ada satu kalimat yang dilontarkan salah satu teman gw soal kehidupannya sekarang... 20tahun sejak lulus SMP, dan mungkin 10 tahun motherhood. Kata dia, "Sekarang gw ud susah mikir, mertua gw kadang suka godain.. 2+8 berapa? (sambil dia ekspresiin ngitung pake jarinya), gw ud bingung jawabnya..." hehehehe... Saat itu gw ketawa kenceng...
Tapi dalam hati gw mikir... Aduuuhh.. sampai segitunyakah kehidupan istri-istri yang hanya di rumah urus suami dan anak?
Sampai segitukah kehidupan motherhood yang 'jauh' dari kegiatan-kegiatan yang bersifat sosialisasi produktif dan ngga cuma gosip dan ngomongin hari2 doang?

Banyak diantara teman-teman gw, ibu-ibu muda yang sangat produktif. Temen gw Anast misalnya, dia bekerja dari pagi sampai sore, tapi masih bisa atur waktu buat suami, anak, ortu, mertua, dan kadang pelayanan. Dan ngobrol sama dia ngga melulu soal anak dan suaminya (biarpun memang dominasi pasti soal itu... ya pastilah... org itu hidupnya dia...)
Tapi ada teman gw satu lagi yang stay di rumah tetapi akhirnya menjadi seseorang yang jauuuuhhhh... sekali dari teman yang gw kenal semasa dia belum menikah. Dari hamil dia sudah sering bilang, "Sejak hamil otak gw jadi bego... kayaknya semua diserap anak gw..."
Hhhhhmmm... sejak itu memang dia stay at home mom, tetapi dipenuhi dengan kekhawatiran akan anak-anaknya, sangat labil, dan mungkiiiinnnn... dia mempercayai apa yang dikatakannya... dan jadi 'bego' beneran... :-)

Semuanya itu membuat gw berpikir... hidup kita selalu berubah. Sebagai wanita, kadang perubahan itu demikian drastisnya... sehinggga yang terjadi bukan hanya perubahan keadaan, tetapi juga perubahan fisik dan mental. Yang kadang terjadi di luar yang kita bayangkan.
Tetapi itu hebatnya seorang wanita... Mereka mampu bertahan melalui itu semua. Dan dari waktu ke waktu begitu semua wanita yang 'pass on' the legacy ke anak-anak mereka atau ke generasi yang ada di bawah mereka. Dan apa yang mereka percayai, itulah yang mereka turunkan sebagai legacy ke anak-anak mereka.

So... mothers... women... friends of life... my sisters...
Lets make a history of our life. Lets make a great legacy to our next generation.
Ada satu ayat dalam Kitab Suci yang berkata: "Terjadilah sesuai imanmu...!"
Apa yang kita imani akan diri kita saat ini?
Bagaimana kita memandang diri kita saat ini?
Percayalah... its not only about yourself, because we live to share.
Dan apa yang kita bagi, adalah apa yang kita percayai.
Its really a one find day when God created us. Not only fine, but great and perfect day...! So.. we are perfect friends.. :-)
Dan gw percaya, ke 'perfect'an itu akan menjadi tambah sempurna saat kita membagikannya kepada sekeliling kita.
Don't ruin your perfectness by believing something thats not real.
Karena semua kesempurnaan tinggal tetap sampai hari kita menghadap kembali ke pencipta kita. Dan motherhood tidak merampas itu semua... bahkan menambahkan semuanya itu...

Motherhood memberikan kesempurnaan atas jati diri wanita
Motherhood memberikan kesempatan untuk berbagi kesempurnaan
Motherhood memberikan privilage untuk justru mempercayai bahwa makin hari kita makin sempurna karena diberi kesempatan untuk meneruskan legacy kita di dunia ini.

So.. Mothers... celebrate your days...
Celebrate your calling
Celebrate your body, mind, and spirit
Celebrate love and life!

PS. I am not a mother yet... but the spirit of motherhood stays in me. And I am happy with this spirit whos nurture me with so many great things that will happend to me. Amen.

Di bawah ini ada satu artikel yang menarik. Please enjoy your reading:


Kapasitas Otak Kita Hanya Dipakai 1 Persen

Drektur Brainic Institute yang juga pengarang buku Be an Absolute Genius, Sutanto Windura mengatakan, potensi dan kemampuan otak manusia pada dasarnya sama. Bahkan, semua anak adalah genius absolut.

"Tidak ada anak yang bodoh, hanya sebagian besar otak kita tidak terlatih. Bayangkan, pada umumnya potensi dan kapasitas otak manusia hanya dipakai kurang dari 1 persen, sisanya tidak pernah dipakai dan dilatih dengan baik," kata Sutanto dalam diskusi dan bedah buku terbatas Be an Absolute Genius di Toko Buku Gramedia, Jln. Merdeka Bandung, Sabtu (24/5).

Menurut Sutanto, jika saja manusia menggunakan 8 persen kapasitas dan potensi otaknya, dia akan menjadi profesor dan ahli dalam berbagai bidang. Dia pun akan mampu menguasai sedikitnya 18 bahasa asing.

Sutanto yang kerap disebut sebagai pelatih otak ini menuturkan, kecerdasan seseorang sebenarnya tidak ditentukan oleh IQ yang tinggi. Salah besar jika hanya anak ber-IQ tinggi yang dikatakan genius.

"Apakah dengan IQ tinggi dia bisa berhasil dalam hidupnya? Berhasil dalam hal akademik mungkin sebab IQ hanya ditentukan oleh dua elemen kecerdasan di dalam otak, yakni bahasa dan logika. Sementara secara keseluruhan, otak memiliki 8 elemen kecerdasan, termasuk kecerdasan bergaul, bergerak, dan lain-lain," tuturnya.

Menurut Sutanto, semua orang bisa menjadi genius asalkan otaknya dikelola dengan baik. Keseimbangan otak kanan dan otak kiri harus dijaga agar keduanya bisa bekerja secara seimbang. Otak pun harus dibiarkan bekerja secara alami sesuai dengan fungsi otak sebagaimana mestinya.

"Sistem pembelajaran di sekolah yang konvensional mayoritas hanya mengoptimalkan kerja otak kiri dengan menjejali materi pembelajaran tanpa diberi tahu bagaimana cara belajar," ungkapnya.

Padahal, kata Sutanto dengan menyeimbangkan kerja otak kanan dan kiri maka hasil pembelajaran yang diperoleh akan maksimal. Keseimbangan antara kemampuan otak kiri dalam mengenal tulisan, bahasa, angka, menganalisis, logika, dan hitungan, dengan kemampuan kerja otak kanan yang mengatur konseptual, seni/musik, gambar, warna, emosi, imajinasi, dimensi, sampai melamun akan menghasilkan manusia genius.

"Tidak perlu terus memberikan materi pelajaran yang berjubel dan hanya menyuruh siswa untuk mencatat. Sesekali biarkan daya imajinasi anak berkembang. Lakukan berbagai cara pengajaran dan diselingi dengan praktik," katanya.

Kendati demikian, Sutanto mengaku cukup sulit mengubah cara belajar konvensional di sekolah. Solusinya adalah orang tua harus tahu dan paham bagaimana mengoptimalkan kemampuan anak dalam belajar di rumah. Bagaimana agar anak menyukai belajar seperti halnya mereka menyukai Play Station dan nonton kartun.

"Libatkan selalu otak kanan dalam setiap pembelajaran anak. Analogkan dengan gambar, warna, dimensi, atau ruang sehingga lebih mudah diingat. Tekankan juga mengenai manfaat satu mata pelajaran jika anak sudah tidak suka dengan mata pelajaran tersebut. Ciptakan suasana positif dalam belajar, jadikan belajar sebagai sesuatu yang menyenangkan," tuturnya.

(A-157) pikiran Rakyat

Quotes by Women who inspire my life.

"My philosophy is that not only are you responsible for your life, but doing the best at this moment puts you in the best place for the next moment." (by Oprah Winfrey)

"Hidup benar di hadapan Tuhan. Percayalah... apa yang kau buat pasti berhasil!"
(by my mom)


"Spread love everywhere you go: first of all in your own house. Give love to your children, to your wife or husband, to a next door neighbor. Let no one ever come to you without leaving better and happier. Be the living expression of God's kindness; kindness in your face, kindness in your eyes, kindness in your smile, kindness in your warm greeting."
(by Mother Teresa)